Kamis, 20 Agustus 2015

Beauty is Pain ... and Pricy (Aesthetic Clinic Adventure)

Semua wanita pasti mendambakan yang namanya punya wajah yang menarik dan indah dipandang alias cantik. Salah satu yang paling menunjang untuk punya wajah yang cantik adalah punya kulit yang sehat sehingga terlihat mulus tanpa cela. Saya termasuk di antara orang yang kurang beruntung, memiliki kulit yang cenderung berjerawat. Banyak yang bilang sih ini karena genetik atau keturunan. Maklum, papa saya memang kulitnya berjerawat lumayan parah. Jadilah saya dan kedua saudara yang lain kena "apes" nya punya kulit wajah yang tidak pernah bisa terlihat mulus. Untuk permasalahan kulit wajah saya sendiri cukup rumit. Waktu menginjak usia puber, kulit muka berminyak dan jerawatan. Karena faktor genetik didukung dengan hormonal di masa puber lengkaplah sudah penderitaan saya menyandang wajah yang berjerawat. Puncaknya pas saya kuliah sekitar menginjak usia 20 an awal. Kondisi wajah lebih parah dari sebelumnya. Pada saat itu saya belum pernah mencoba berobat ke klinik kecantikan, tapi karena banyak yang sudah mulai komentar mengenai wajah saya, akhirnya saya dapat perintah dari "ibu negara" alias mama saya untuk segera berobat sebelum menjadi semakin parah. Waktu itu saya kuliah di Surabaya, saya minta referensi dari teman-teman disana. Beberapa menyarankan untuk mencoba ke Natasha Skin Care. Akhirnya saya mulai rutin perawatan di Natasha. Konsultasinya gratis, tidak dikenakan biaya apapun karena dokternya bukan dokter spesialis. Cuma dokter umum biasa. (Tips: jangan pernah mempercayakan untuk melakukan perawatan wajah dengan dokter umum. Sebaiknya percayakan dengan dokter spesialis kulit (SpKK) )

Sejak saat itu saya rutin dua minggu sekali "nyetor" ke Natasha untuk pembelian krim dan melakukan tindakan perawatan seperti facial, chemical peeling, microdemabrasi, injeksi dan lain-lain. Namanya juga perempuan, apapun dilakukan demi bisa punya muka mulus. Tapi sayang beribu sayang, bukannya mulus, yang ada wajah saya malah iritasi. Jerawat sedikit berkurang (hanya sedikit) dan kulit berubah jadi seperti labu jack-o-lantern, warnanya jadi orange kemerahan. Tapi saya tetap masih percayakan dengan Natasha. Sampai berlangsung dua tahun, akhirnya saya memutuskan untuk menyerah dan berpikir untuk berhenti perawatan di Natasha. Setiap kali berkunjung ke Natasha, minimal saya "nyetor" 500 ribu. Kalau ditambah perawatan, kadang sampai 800 ribu. Sebulan dua kali saya "nyetor" tinggal dikalikan saja dengan jumlah kunjungan saya selama dua tahun. Sedih? pasti. Kecewa? sudah jelas. Sudah mengeluarkan biaya banyak, sakitnya minta ampun saat di facial dan sebagainya, tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Akhirnya setelah lama mempertimbangkan, saya dan Natasha harus "break up", putus hubungan begitu saja.

Kemudian saya langsung jadi galau, tiap ketemu dengan teman-teman dikosan, mereka sampai hapal dengan ratapan dan keluahan saya tentang kulit saya. Akhirnya salah satu dari mereka ada yang menyarankan untuk ke klinik Surabaya Skin Care (SSC). Dia menyarankan untuk konsul ke Dr. Wawan , SpKK. Katanya dokter tersebut sudah terbilang senior dalam hal kecantikan wajah. Dan pada saat saya "googling" kiprahnya memang sudah malang melintang di dunia kesehatan kulit. Disitu dengan mengucap bismillah, saya mantapkan hati untuk berkunjung ke SSC dan menemui Dr. Wawan. Setelah bertemu dengan dokternya, saya menumpahkan semua kegalauan tentang kulit wajah saya. Dokternya lumayan enak diajak ngobrol dan memberi semangat buat pasien untuk tetap "hepi" karena kunci utama untuk terlihat cantik tetap datang dari hati. Disitu saya lumayan bisa ceria lagi dan mencoba untuk selalu berpikir positif. Akhirnya setelah diberi resep, saya mulai rutin menggunakan paket perawatan dari SSC. Sedikit lebih mahal dari Natasha. Tapi yang saya suka, Dr. Wawan tidak menyarankan untuk saya harus facial dan sebagainya. Karena memang tidak perlu dan menurut saya hal tersebut juga membuat image si dokter tidak komersil, berbeda dengan di klinik kecantikan yang sebelumnya.

Tiga bulan pertama, wajah saya makin berjerawat. Tapi dokternya memang sudah memperingatkan dari awal kalau saya tidak perlu panik karena memang seperti itu prosesnya. Harus sabar dan tetap rutin menggunakan obatnya. Tapi pada saat itu memang cukup berat buat saya, apalagi tiap saya bercermin rasanya malas lihat wajah saya sendiri. Apa boleh buat, saya cuma bisa menunggu sampai hasilnya terlihat. Dan setelah beberapa bulan kemudian, akhirnya benar yang dibilang dokter Wawan, jerawat saya hilang! Berkat doa mama juga yang waktu itu juga kebetulan sedang menunaikan ibadah haji. Akhirnya permasalahan saya jauh berkurang. Akan tetapi jerawat hilang namun meninggalkan "warisan" di wajah yang hilangnya jauh lebih sulit seperti pori pori besar, scars, flek hitam dan sebagainya. Pada saat itu saya sudah lulus kuliah dan harus kembali ke kampung halaman, Balikpapan. Sialnya, SSC tidak buka 'franchise' dimanapun demi menjaga mutu dan ekslusivitas. Tapi untungnya SSC bisa melakukan pengiriman obat ke seluruh Indonesia. Akhirnya selama beberapa tahun saya masih bisa tetap menggunakan krim SSC meskipun saya berada di Balikpapan...

Jerawat saya memang sudah tidak tumbuh banyak lagi, tapi manusia kadang jarang merasa puas. Apalagi saya perhatikan kalau wajah saya ini masih butuh treatment spesial untuk menghilangkan bekas-bekas jerawat di wajah saya yang cukup complicated and got me frustrated. Dan saya yakin, dengan menggunakan krim saja tidak akan merubah apa-apa untuk kulit saya. Pernah sih beberapa kali mencoba untuk tetap setia dengan SSC dan terbang ke Surabaya hanya untuk perawatan wajah, tapi karena saya di Balikpapan biayanya jadi mahal luar biasa. Mungkin sekali treatment cuma dua juta, tapi jangan lupa untuk biaya tiket pesawat dan hotelnya. Akhirnya dengan berat hati, saya harus "break up " dengan SSC dan berpikir untuk pindah ke klinik kecantikan yang ada di kota saya saja.

Dari banyak referensi teman di Balikpapan, saya mencoba untuk ke Miracle Aesthetic Clinic. Pertama kali datang, saya langsung konsul ke dokter Mulik yang juga merupakan petinggi di Miracle cabang Balikpapan. Pelayanannya oke, kliniknya mewah, orangnya ramah-ramah. Rupanya prinsip dari klinik ini adalah menganggap customer adalah raja sehingga kita diperlakukan seperti "VIP". Pada saat konsul, dokternya sangat memotivasi pasien. Satu yang mengganjal buat saya adalah semua tim dokternya bukan dokter spesialis. Tapi saya pikir apa salahnya dicoba dulu , apalagi banyak yang bilang Miracle meskipun mahal tapi hasilnya bagus. Okelah saya percaya. Pertama kali ambil obat saya mengeluarkan kocek sekitar 1, 5 juta. Saya jadi tambah yakin lagi, dalam pikiran saya perawatan ini mahal sekali tapi pasti hasilnya bagus. Untuk sabun wajahnya saja 720 ribu, tapi kemasannya besar , mungkin bisa digunakan sampai 2-3 bulan. Untuk krim-krim yang lain, harganya standar, sekitar 150ribu - 200ribu. Dan mulailah saya mencoba pengobatan di Miracle dan berharap ada miracle untuk wajah saya.

Dan.. sekitar tiga bulan setelah menggunakan produk klinik tersebut hasilnya luar biasa .. mengecewakan. Yang awalnya muka saya sudah bersih, jadi muncul "closed comedo" disekitar kedua pipi. Sehingga terlihat seperti jerawat kecil - kecil dan membuat wajah saya jauh dari kesan mulus. Rutin peeling di Miracle pun tidak membuat kulit saya terlihat lebih "kinclong". Intinya tidak ada perubahan untuk kulit wajah saya ke arah yang lebih baik. Malah saya merasa semakin lebih berjerawat. (Tips: jangan terlena dengan produk perawatan yang mahal. Sama sekali tidak menjamin hasil yang maksimal yang diharapkan). Akhirnya saya sadar kalau semua tim dokter dan asisten-asisten di Miracle termasuk apotekernya hanyalah "bunch of sweet talkers". Hehe, segitu emosinya ya saya. Belajar dari pengalaman waktu berobat di Natasha, saya tidak mau buang-buang waktu lebih lama lagi dan buang-buang uang lebih banyak lagi. Dan untuk kesekian kalinya, saya harus "break up" lagi dengan klinik kecantikan yang bikin saya patah hati :(

Kebetulan tidak berapa lama kemudian, saya langsung dapat referensi dari teman yang lain tentang klinik estetika yang bisa saya coba selanjutnya. Erha clinic namanya.Untuk yang satu ini, sebenarnya saya cukup takut mencoba karena waktu di Surabaya dulu saya lumayan banyak melihat langsung efek dari ketergantungan obat dari Erha. Tapi selain itu banyak juga yang bilang kalau Erha tidak bikin ketergantungan sama sekali. Entahlah saya harus percaya yang mana. Tapi yang pasti karena wajah saya sudah terlanjur berjerawat lagi akhirnya saya nekat untuk datang ke Erha Clinc dan mulai perawatan disana..

Satu hal yang sedikit membuat saya yakin adalah tim dokternya merupakan tim dokter spesialis. Pertama kali saya konsul dengan dokter Regina. Tidak berlangsung terlalu lama karena dokternya kurang melakukan komunikasi timbal balik. Tapi saya tidak memperdulikan itu karena saya punya beberapa pertanyaan dan saya mengeluarkan biaya untuk konsultasi ini sebesar 100ribu, berhubung konsulnya dengan dokter spesialis, bukan dokter umum. Akhirnya dokter Regina memberi resep 4 macam krim dan sabun muka khusus. Totalnya 380ribuan. Saya lumayan tidak percaya. Karena buat saya itu murah sekali! Berhubung sebelumnya di Miracle saya mengeluarkan 700ribuan hanya untuk satu sabun muka.

Anyway, saya pun langsung memulai perawatan dengan obat dari Erha. Seminggu pertama saya mulai merasakan sedikit perubahan. Yang pasti wajah saya tidak terlalu berminyak lagi. Harapan saya pun akhirnya mulai muncul. Hanya saja ada peraturan dari dokter yang saya kurang suka, yaitu sama sekali tidak dianjurkan untuk memakai bedak sehari-hari. Jadi pasien harus tampil "polos" sampai waktu yang ditentukan. Saya lumayan tidak percaya diri kalau tidak memakai bedak, karena wajah saya masih ada jerawat dan bekas-bekasnya, pori-pori besar, dan lain lain yang bisa tertutupi oleh bedak. Efeknya, saya jadi jarang keluar rumah, apalagi kalau ada ajakan dari teman - teman untuk nongkrong di mal. Ke mal dan tidak pakai bedak apapun? Buat saya itu haram hukumnya. Jadilah kegiatan saya sedikit terbatas. Tapi saya ikhlas saja, demi mendapatkan kulit yang sehat dan indah, apapun saya lakukan termasuk tidak dandan kalau pergi keluar rumah. 

Hari dimana saya buat tulisan ini, adalah hampir sebulan saya menggunakan Erha. Seminggu terakhir saya lumayan panik karena jerawat malah bermunculan di wajah saya. Kecil, besar, lengkap deh. Saya langsung berpikir apa saya harus berpindah lagi ke klinik lain. Kembali ke Surabaya Skin Centre dan hanya merawat wajah dengan krimnya tanpa melakukan tindakan apapun seperti peeling, dan sebagainya. Tapi di lain sisi saya berpikir untuk meneruskan dulu dan dilihat apa mungkin kondisi wajah saya saja yang belum stabil. Karena selama pakai Erha, jerawat yang muncul lumayan cepat "mati"nya. Hanya saja jerawat selalu meninggalkan bekas yang menjengkelkan yang hilangnya lebih lama. Saya takut wajah saya jadi penuh jerawat dan bekas-bekasnya. Amit-amit deh, saya tidak mau balik lagi ke kondisi wajah 5 tahun lalu. Yang pasti saya masih tetap mau percayakan perawatan kulit wajah dengan Erha. Kalau hasilnya sudah kelihatan, mungkin nanti saya akan update lagi perkembangannya di blog ini sebagai referensi klinik kecantikan yang mungkin bisa dicoba :)





Rabu, 05 Agustus 2015

America's Next Top Model = New World Order by Tyra Banks ?




Mungkin sebagian pemirsa acara tv yang perempuan sekitar umur belasan sampai 25 tahun ke atas cukup familiar dengan reality show kompetisi model dari Amerika buatannya Tyra Banks , mantan Victoria's Secret Angel yang berjudul America's Next Top Model. Saya sendiri penggemar acara ini karena dikemas dengan sangat menarik sehingga tiap minggu saya selalu tunggu penayangannya di CBS. Tiap cycle kompetisi diikuti oleh belasan model yang performance nya dinilai dari hasil photo shoot mereka tiap minggu. Kalau ada yang paling jelek hasil fotonya, maka model itu yang akan di eliminasi pada saat penjurian yang diadakan tiap minggu. Saya sudah lupa mulai ngikutin acara ini dari cycle ke berapa. Tapi yang pasti, cycle terakhir yaitu cycle 21 yang sangat menarik perhatian saya. 

Cycle 21 Guys and Girls judulnya, memberikan konsep yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kalau dari cycle 1 sampai 19 pesertanya hanya model cewek aja, sekarang dibikin berbeda, ada peserta laki-lakinya juga. Hanya untuk informasi saja, sebenarnya konsep ini sudah dibuat pertama kali di cycle 20. Dan yang sangat menarik perhatian saya adalah para peserta dikarantina dalam satu atap, artinya laki-laki dan perempuan campur jadi satu di dalam satu rumah. Mereka pun bebas tidur di kamar mana aja, tidak harus yang perempuan tidur di kamar perempuan atau laki-laki tidur di kamar laki-laki. Kalau mereka mau, laki-laki dan perempuan bisa tidur dalam satu kamar yang sama, dan apapun yang akan terjadi di kamar itu, terjadi saja. Bebas, tidak ada aturan yang melarang apapun. 

Konsep kompetisi model ini cukup membuat saya geleng-geleng kepala. Tapi kegilaan dari America's Next Top Model Guys and Girls cycle 21 ini tidak hanya itu. Setiap minggu, tiap peserta dikasih tantangan yang nilai dari tantangan tersebut akan diakumulasi dengan skor photo shoot, juga nilai media sosial (jumlah vote dari fans para peserta di media sosial). Episode minggu kemarin yang saya tonton, tantangannya adalah "naked runaway". Jadi disini, peserta akan berjalan di catwalk di depan ratusan orang, tanpa mengenakan pakaian! Bagian pribadi mereka cuma ditutup dengan silly string atau semprotan yang biasa dipakai ke orang yang ulang tahun di pesta-pesta. Tapi memang sudah resiko jadi model untuk mengekspos tubuh mereka tanpa sehelai benang pun di depan umum. Cuma saya langsung mikir, model-model cewek dan cowok sudah ngeliat bagian tubuh masing-masing. Dan semuanya punya body yang super seksi. Apa jadinya saat mereka kembali ke rumah karantina 'campur' yang bebas tanpa aturan?



Selain itu, ada beberapa peserta yang punya kelainan orientasi seksual. Ada yang benar-benar gay, dan ada yang biseksual. Pada salah satu episode, ada cerita dimana salah seorang peserta cowok yang normal ciuman dengan peserta cowok yang gay. Katanya si cowok normal, ciuman itu terjadi karena dia mengapresiasi kecantikan peserta cowok yang gay. Tapi please deh, apakah apresiasi itu harus diwujudkan dengan ciuman antar sesama jenis?? 

Belum lagi ada peserta cowok yang biseksual. Tiap kali pemotretan, dia sering sekali disuruh untuk menampilkan sisi feminin nya daripada sisi macho. Dengan kata lain, dia sering disuruh untuk tampil tidak sesuai dengan kodratnya. Dan kebetulan peserta cowok yang biseksual itu mengaku sangat dekat dengan ilmu hitam. Pernah ditayangkan adegan dimana dia sedang melakukan ritual untuk sihir yang melibatkan pemanggilan iblis supaya sihirnya bekerja. Saya bener-bener ga habis pikir, apa acara ini masih appropriate untuk disiarkan di tv?

Romeo (yang memegang buku witchcraft), peserta yang melakukan praktek ilmu hitam di rumah karantina


Seks bebas, penyuka sesama jenis, nudity dan witchcraft ada di dalam America's Next Top Model Guys and Girls cycle 21 ini. Pemirsa yang paling banyak nonton adalah yang usianya masih remaja, yang masih mencari-cari panutan dan jati diri mereka. Di saat anak-anak remaja tersebut masih labil dan bingung dengan jati diri mereka, mereka disuguhkan acara yang tidak pantas untuk ditonton seperti ini, maka apa jadinya mereka nanti.


Semua konsep acara besutan Tyra Banks ini sangat mengingatkan saya dengan konsep - konsep illuminati, perkumpulan rahasia pemuja setan yang agenda utamanya adalah untuk membentuk tatanan dunia baru (New World Order) dan memiliki simbol piramida mata satu. Illuminati menjunjung penyuka sesama jenis, seks bebas dan memuja setan sebagai gaya hidup mereka. Propagandanya yang paling utama adalah melalui acara televisi karena bisa mencakup jutaan orang sekaligus untuk melihat suguhan konsep illuminati. Yang pernah saya baca juga, saat menonton televisi kita jadi terpengaruh dengan acara tersebut disaat kondisi sedang rileks, sehingga alam bawah sadar bisa lebih menyerap apa yang kita lihat. Untuk penonton dalam usia dewasa, mungkin masih bisa memilah-milah mana tontonan yang ditiru dan mana yang tidak seharusnya ditiru, tapi apakah penonton yang dalam usia remaja bisa seperti itu disaat mereka masih dalam fase yang labil dan suka meniru? 

Simbol illuminati


Sekarang saya mau bahas tentang si creator dari acara America's Next Top Model , Tyra Banks. Kalau saya buka artikel tentang illuminati di internet, pasti ada informasi juga tentang selebritis - selebritis dunia yang dicurigai sebagai anggota illuminati dan pendukung gerakannya. Seperti Jay-Z, dan artis-artis yang berada dalam labelnya (Rihanna, Kanye West, Beyoncé, dll), Lady Gaga, Miley Cyrus yang bertranformasi dari good girl menjadi bad girl, Justin Bieber yang juga berubah jadi bad boy, pendatang baru Ariana Grande dan banyak lagi lainnya termasuk Tyra Banks. Kalau saya search juga dari foto-foto Tyra di internet, ada beberapa posenya yang lagi menutup mata kanannya. Sebagai informasi, Illuminati dilambangkan dengan lambang mata satu di dalam segitiga yang tidak utuh bagian atasnya, bisa dilihat di dalam uang 100 dollar Amerika yang lama. Bisa dibilang "tuhan" mereka adalah The All Seeing One Eye atau mata satu yang maha melihat. Sehingga pose-pose yang menampilkan mata satu cukup populer di kalangan selebriti dunia. Bisa kita search dengan gampang kok di Google. 


Pose "one eye", simbol illuminati yang kerap ditampilkan Tyra

Perhatikan kaosnya yang bergambar piramida mata satu


Oh ya, dan satu hal lagi, acara America's Next Top Model ini ditayangkan di stasiun tv CBS yang kalau diperhatikan lambangnya menyerupai mata satu. Untuk lebih jelasnya, bisa kita browsing di Google tentang simbol-simbol illuminati yang digunakan stasiun televisi termasuk tv nasional di Indonesia. Hal ini membuat saya semakin terbuka dengan konsep acara yang dibuat Nona Tyra Banks ini. Sangat jelas kalau pergaulan bebas dan nudity yang dia rancang untuk peserta America's Next Top Model bukan lagi suatu kebetulan. Belum lagi aktivitas ritual ilmu hitam yang dipresentasikan salah satu peserta dan propaganda homoseksual semakin menambah keyakinan saya kalau acara ini merupakan persembahan dari Tyra sebagai bentuk kesetiannya terhadap apa yang dianutnya. Selain itu juga  Komitmen nya untuk membentuk sebuah tatanan dunia baru sangatlah kuat sama seperti seleb illuminati lain. Saya sudah masuk usia dewasa yang bisa memilah-milah mana acara tv yang isinya bermutu dan mana yang tidak. Saya pun juga sangat aware dengan propaganda illuminati yang sangat banyak sekali di sekitarnya. Pertanyaannya, apa orang-orang diluar sana juga aware dengan propaganda terselubung ini? Semoga pemirsa pengkonsumsi acara tv semuanya bijaksana dalam menyaring isi dari acara yang mereka tonton.


Terdapat gambar yang menyerupai mata satu pada logo CBS. Kebetulan?




Minggu, 02 Agustus 2015

"The Rainbow on June 26th 2015"



Pada tanggal 26 Juni 2015, terjadi peristiwa bersejarah di Amerika Serikat. Presiden Barrack Obama mengumumkan bahwa seluruh negara bagian di AS secara resmi melegalkan pernikahan sesama jenis. Hal ini membuat banyak orang di Amerika bersorak gembira karena kesetaraan kaum LGBT (lesbian gay bisexual transexual) telah terwujud dan semakin mengukuhkan negara Amerika Serikat yang merupakan negara liberal menjunjung tinggi kebebasan dan kesetaraan. Namun setiap keputusan besar, terkadang selalu mengundang pro dan kontra dari berbagai kalangan. Di antara banyaknya warga Amerika yang mendukung dilegalkannya pernikahan sesama jenis, ada beberapa juga yang mengecam keputusan pemerintah tersebut, seperti umat beragama di Amerika dan orang-orang yang anti homoseksual. Apapun itu, keputusan telah dibuat dan tidak lagi bisa diubah. Peristiwa ini jelas akan  sedikit banyak berpengaruh ke seluruh dunia. Satu contoh, Seperti yang saya ketahui dari teman yang berada di Australia, kaum LGBT yang berada disana juga mulai menuntut pemerintah Australia untuk membuat wacana yang bertujuan untuk mengesahkan pernikahan sesama jenis atas nama kesetaraan dan hak asasi manusia.

 

Lampu pelangi menerangi White House di tanggal 26 Juni 2015
Kalau menurut saya pribadi, jelas pernikahan sesama jenis adalah big no no. Segala sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas yang melenceng di mata saya adalah sebuah kesalahan besar yang harus dikoreksi bukannya malah didukung. Kalau di tahun 2015 ini, homo dan lesbian bisa menikah secara resmi dan diakui oleh negara, apa lagi yang akan diperbolehkan di tahun -tahun mendatang? Pernikahan antara ayah dan anak? Manusia dan hewan? Orang dewasa dengan anak dibawah umur? Toh yang diributkan selama ini adalah cinta , kesetaraan dan hak asasi manusia. Tidak menutup kemungkinan kaum incest, bestially dan pedhophil akan menuntut kesetaraan juga dan mengatasnamakan cinta untuk melegalkan pernikahannya. Who knows? Percintaan sesama jenis yang selama ini kita lihat sangat amat melenceng , di beberapa negara sudah dianggap sangat normal. Para pelakunya mendapat dukungan yang utuh dari banyak pihak. Jadi dengan adanya pengesahan pernikahan sesama jenis ini, kita harus bersiap untuk kegilaan-kegilaan lain yang akan datang menuntut untuk diakui, disahkan dan diterima.

 


     
 
Kemeriahan parade gay di berbagai belahan dunia. Seperti inikah masa depan kita nanti?
Namun, dengan adanya  fenomena LGBT ini membuat saya malah ingin tahu dengan mereka. Dig deeper dengan apa yang membuat mereka menjadi orang yang bingung dengan kodratnya. Kebanyakan bilang kalau mereka merasa berada dalam tubuh yang salah. Saya tidak tahu rasanya seperti apa karena untungnya saya adalah seseorang yang tidak punya masalah dengan gender saya. Hal inilah yang membuat saya ingin tahu dengan apa yang sebenarnya mereka alami sehingga beberapa ada yang memutuskan untuk mengubah kelamin mereka yang mana hal tersebut sesuatu yang memerlukan proses panjang dan sangat menyakitkan. Bagi wanita yang ingin berubah menjadi pria misalnya, mereka melakukan "top surgery" atau operasi untuk menghilangkan payudara dan harus secara terus menerus menyuntikkan hormon testosteron ke dalam tubuh mereka. Bagi pria yang ingin bertransisi menjadi wanita, mereka harus menghilangkan "adam's apple" atau buah jakun yang ada di leher mereka dan secara terus menerus mengkonsumsi hormon estrogen. Untuk yang nekat dan  putus asa, bahkan ada yang memilih "menghilangkan" kelamin mereka. Keputusan yang besar itu tentu tidak lahir dalam sehari dua hari, tapi seumur hidup mereka untuk mengumpulkan keberanian melakukannya.

Aydian Dowling, seorang transgender "FTM" (female to male)
 
Bruce Jenner, sekarang dikenal sebagai "Caitlyn" seorang transgender "MTF" (male to female)

Nick adalah seorang transgender FTM, Bianca adalah transgender MTF. Mereka menikah dan memiliki dua anak biologis dari pernikahan mereka

Karena rasa ingin tahu yang sangat besar, secara berkala saya browsing internet untuk sekedar mencari berita, artikel, true story atau apapun. Kebetulan, saya cukup aktif juga di media sosial instagram dan sering explore banyak akun instagram untuk posting comment atau hanya sekedar stalking. Dan akhirnya saya menemukan sebuah akun seorang  transgender FTM ( female to male) yang menampilkan orang-orang yang sudah bertransisi. Akun tersebut bertujuan untuk mendukung setiap orang yang ingin "berubah" secara fisik dan emosional. Kadang-kadang saya menulis komentar-komentar tentang keingintahuan saya tentang mereka dan apa yang membuat mereka berubah. Akhirnya ada satu orang dari komunitas LGBT yang merespon keingintahuan saya dan bersedia untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di benak saya secara terbuka. Namanya Alex dan tinggal di California, Amerika Serikat. Kami memiliki percakapan yang menarik lewat private message. Akhirnya saya mulai mendapat sedikit pencerahan tentang apa yang mereka lalui dan berikut sebagian dari percakapan kami:


Q : Hi, thanks for responds me. Are you one of trans sexual?
(Hai, terima kasih sudah merespon saya. Apa kamu termasuk salah satu orang trans seksual?)

A : My pleasure. I am still trying to figure out who I am. I would consider myself more gender fluid, some days feeling more like a boy than a girl, so i am still undecided. But, I could answer your questions as i am considering transitioning
(Dengan senang hati. Saya masih mencari tahu tentang diri saya. Saya pikir saya lebih ke arah berkelamin ganda, terkadang saya lebih merasa seperti laki-laki daripada perempuan jadi saya masih belum memutuskan. Tapi saya bisa jawab pertanyaan kamu karena saya mempertimbangkan untuk bertransisi)

Q: So I assume you're a girl. well that's what i actually want to know. Why are you confused with what you should be? Do you have any stories behind it? Or the feeling just comes often to your mind?
(Jadi saya asumsikan kamu adalah perempuan. Itulah yang ingin saya tahu. Kenapa kamu bingung dengan kodratmu? Apa kamu punya cerita dibaliknya? Atau perasaan tersebut cuma sering muncul dalam pikiran kamu?)

A: Yep, I am a girl. Gender identity is identified at a very young age for most children. But not all transgenders know at a young age sometimes. Young children begin to explore things about themselves such as clothing. What they feel most comfortable in. As soon as I was able to talk as young kid, I would throw a fit before I would be put in a dress. I would run to the boy clothes everytime my parents and I would go clothes shopping for me. Imagine waking up and feeling horrible when you look at yourself in the mirror. You know you're in the wrong body. You're uncomfortable in your own skin, and you're not happy with who you are. You were born in the wrong body, that's how you feel and it can be quite depressing
(Ya, saya perempuan. Identitas kelamin terlihat pada usia dini pada sebagian besar anak-anak. Tapi tidak semua transgender mengetahui di usia yang dini. Anak-anak mulai mencari tahu tentang diri mereka seperti cara berpakaian. Apa yang paling dirasa nyaman. Pada saat saya sudah bisa bicara waktu masih kecil, sebelum saya benar-benar memakai sebuah gaun, saya harus mencobanya dulu. Saya berlari ke arah pakaian anak laki-laki setiap kali saya dan orangtua berbelanja. Bayangkanlah pada saat bangun tidur dan merasa buruk ketika kamu melihat dirimu sendiri di cermin. Kamu tahu kamu berada di tubuh yang salah. Kamu merasa tidak nyaman dengan kulitmu sendiri dan kamu tidak bahagia dengan dirimu. Kamu terlahir di tubuh yang salah, itulah yang kamu rasakan dan hal tersebut cukup membuat depresi)

Q: So the uncomfortable feeling comes naturally to you. I am sorry that you've been in such condition, i can't imagine. I never feel the same way, but when you mentioned "it can be depressing" i know it must be very hard. Have you considered to take estrogen? Maybe it'll help you to make you feel more comfy as a girl. How old are you, by the way?
(Jadi perasaan tidak nyaman datang begitu saja padamu. Saya merasa sedih dengan keadaanmu, saya tidak bisa membayangkan. Saya tidak pernah merasakannya tapi ketika kamu bilang hal itu membuat kamu depresi, saya jadi tahu kalau pasti sangat berat. Apa kamu sudah mempertimbangkan untuk mengkonsumsi hormon estrogen? Mungkin bisa membantu membuatmu lebih nyaman sebagai perempuan. Berapa umur kamu?)

A: Yeah, it's just a feeling such as any other emotion. No need to apologize, one day i'll be really happy, I just have to get pass all the speed bumps first. No, I haven't considered taking estrogen or any other type of female hormone. For example, estrogen can help with the development of your breasts, whereas I don't feel comfy with mine. I am happy that they're not huge, but I would prefer not  to have them. I am 16 years old.
( Ya, itu hanyalah sebuah perasaan sama seperti perasaan lainnya. Tidak perlu meminta maaf, suatu hari nanti saya akan merasa bahagia, saya cuma harus melalui semua cobaan yang ada. Tidak, saya belum pernah mempertimbangkan untuk mengkonsumsi estrogen atau hormon kewanitaan lain. Ambil contoh, estrogen bisa membantu menumbuhkan payudara, sedangkan saya sudah merasa nyaman dengan punya saya. Saya suka dada saya tidak besar, tapi saya lebih memilih untuk tidak memiliki payudara. Usia saya 16 tahun)

Q: Wow, you're almost in the same age with my lil bro. He just turned 17. Well, i am not a psychology expert , but in my experience young people at your age have so many issues in psychological things. As you're in your puberty and sometimes you become unstable and confused. Just like my brother, in one second he can be so nice, but then he can be furious just because of a small thing. What i am trying to say is that you still find out who you are, which is very normal in your age. But if you choose to transitioning, I think it's a very huge step that you should not decide in your age now, don't you think?
(Wow, umur kamu hampir sama dengan adik saya. Dia baru saja berulang tahun yang ke 17. Saya, bukan seorang ahli psikologi, tapi pengalaman saya, anak seusia kamu punya banyak masalah dalam hal kejiwaan. Karena kalian dalam masa puber dan terkadang menjadi tidak stabil dan bingung. Seperti adik saya, pada suatu waktu bisa menjadi sangat baik, tapi detik berikutnya bisa berubah menjadi marah-marah karena hal kecil. Yang mau saya bilang, kamu masih mencari jati diri yang mana hal tersebut sangatlah normal di usia kamu. Tapi kalau kamu tetap memutuskan untuk bertransisi, saya rasa itu adalah langkah yang sangat besar yang tidak seharusnya kamu putuskan sekarang, tidakkah kamu berpikir demikian?)

A: Yeah, I know how temper can be in boys and girls, especially in our teen years. Like you said, with puberty and all it can be a very confusing time in our lives. Not just for us , LGBT + teens but for every teenager. However I must say, your brother shows change in his emotions such as his temper whereas sexuality is different. I know I am still trying to figure out who I am, but in my beliefs, I feel as if it isn't a choice. You're right, I should wait and I will,  but I don't think anyone would choose a life where you have to face endless bullying and being brought down to your lowest. It's whatever makes you happy.
(Ya, saya tahu seberapa emosionalnya anak-anak remaja. Seperti yang kamu bilang, masa puber adalah masa yang paling membingungkan dalam hidup. Tidak hanya untuk para remaja LGBT tapi juga semua remaja yang lain. Tapi saya mau bilang, adikmu menunjukkan perubahan dalam hal emosi yang mana sangat berbeda dengan masalah seksualitas. Saya tahu, saya masih mencari jati diri, tapi dalam keyakinan saya hal itu bukanlah pilihan. Kamu benar, saya sebaiknya menunggu dan saya akan menunggu. Tapi saya pikir tidak seorang pun memilih sebuah kehidupan dimana kamu harus menghadapi diolok-olok selamanya dan direndahkan. Ini adalah tentang apapun yang membuat kamu bahagia)

Q: Those bullies. Hope that they will get their punishment for what they do. I think you need so much supports from environment around you. Did you come out to your parents? and how did they respond? Also, if this's not a rude question.. So are you interested to girls?
(Para penggangu itu. Semoga mereka mendapat ganjaran atas semua yang mereka lakukan. Saya rasa kamu perlu banyak dukungan dari lingkungan sekitar kamu. Apa kamu sudah bilang ke orangtuamu? Bagaimana respon mereka? Juga, apabila pertanyaan ini tidak menyinggung, apa kamu suka dengan perempuan?)

A: I am thankful for support from my friends and teachers that's about all I have. I did come out to my parents but not as transgender. I did come out to them as being gay, yes I do like girls. They weren't quite happy about it. I was taken to talk to a priest and things like that. They dont support me and living with them is quite awkward. Nothing's the same anymore. I feel as if they dont love me anymore because their way of showing me that they do only hurt me. They're affraid that in going to hell.. But overall, life at home sucks for me. I rather be at school. I keep telling them that I am the same kid as before and that they only know me a little bit deeper but i dont know.. they think differently. I thought that coming out to them would make things easier for me. I didn't want to hide who I am from them but it didn't quite work out for me.
(Saya bersyukur dengan semua dukungan dari teman-teman dan guru saya, dan hanya itulah yang saya punya. Saya sudah bilang ke orangtua tapi bukan sebagai seorang transgender. Saya bilang ke mereka kalau saya seorang penyuka sesama jenis. Ya, saya suka perempuan. Dan mereka tidak senang akan hal itu. Saya dibawa untuk curhat ke pendeta dan hal-hal semacam itu. Mereka tidak mendukung saya dan hidup dengan mereka cukup tidak nyaman. Semua menjadi berbeda. Saya merasa kalau mereka tidak sayang lagi dengan saya karena mereka cuma selalu menyakiti saya. Mereka takut masuk neraka.. Secara keseluruhan, kehidupan saya di rumah tidak menyenangkan buat saya. Saya lebih memilih untuk berada di sekolah. Saya selalu bilang ke mereka kalau saya masih sama seperti sebelumnya dan bahwa mereka cuma tahu lebih dalam lagi tentang saya, tapi tidak tahulah.. mereka sudah mengubah cara pandang mereka. Saya pikir dengan jujur kepada mereka akan mempermudah saya, saya cuma tidak mau menutupi siapa diri saya dari orangtua, tapi ternyata tidak berhasil)

Q: Well, I hope that things will get better. I understand if they're dissapointed, but by ignoring you, doesnt help at all I think. Parents should play an important role for you. Too bad that they do the opposite.Well, if I may suggest.. keep being you. I mean you must be a lovely girl and stay with it. I've seen the process of transitioning, it's scary and I am sure it's painful. You dont need to experience it and maybe it costs lot of money?
(Semoga semua akan menjadi lebih baik. Saya mengerti kalau mereka kecewa, tapi saya pikir dengan mengacuhkanmu tidak membantu apa-apa. Orangtua seharusnya berperan penting untukmu. Sayang sekali mereka melakukan sebaliknya. Kalau boleh saya menyarankan.. tetaplah menjadi dirimu. Maksudnya, kamu pasti anak yang cantik dan tetaplah menjadi cantik. Saya pernah melihat proses transisi, sangat menakutkan dan saya yakin pasti menyakitkan. Kamu tidak perlu mengalaminya dan mungkin melakukannya membutuhkan banyak biaya?)

A: Thanks for your compliment  but until now i am happy and comfortable with who I am, I will keep searching. I don't think it's painful, but it does require commitment and hard work. But if you set your mind to it and you really want it, you can make anything happen. Yes it can be pricy but I guess that depends on your doctor and if you can get help or not, such as support groups...
(Terima kasih atas pujiannmu, tapi sampai sekarang saya merasa bahagia dan nyaman dengan diri saya, saya masih terus mencari. Saya rasa transisi tidaklah menyakitkan tapi yang pasti membutuhkan komitmen dan kerja keras. Tapi kalau kamu sudah menetapkan untuk bertransisi dan sangat menginginkannya, kamu bisa mewujudkannya. Ya , akan sangat mahal tapi saya rasa itu tergantung dokternya dan juga apabila kamu bisa mendapatkan bantuan, seperti dari kelompok pendukung...)

Begitulah kira-kira sebagian percakapan saya dengan Alex. Saat tulisan ini dibuat, karena satu dan lain hal, history percakapan kami terhapus sebelum saya sempat membuat screen shot dari percakapan tersebut untuk bisa saya tampilkan disini. Mungkin setelah membaca diskusi tersebut, kita semua bisa menyimpulkan kalau Alex sudah fix dengan ketertarikannya menjadi seorang lesbian yang mengarah ke transgender. Meskipun keputusannya itu diambil diusianya yang tergolong masih usia labil dimana segala sesuatu dapat berubah dan masih mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Ditambah lagi, Amerika, dimana Alex tinggal sudah lama memiliki budaya peradaban yang  bebas dan "nyeleneh". Sehingga semua itu membentuk dan mempengaruhi pikiran seseorang untuk ikut terpengaruh dengan lingkungan sekitar. Mungkin hal ini juga yang terjadi dengan Alex. Banyak pembelaan di luar sana yang mengatakan bahwa 'being gay is not a choice, it's meant to be' (menjadi seorang homoseksual bukanlah sebuah pilihan, melainkan sudah ditakdirkan seperti itu). Bisa dibilang kalau pernyataan tersebut hanyalah omong kosong. Menjadi perempuan atau laki-laki sejak lahir barulah itu yang namanya takdir. Sedangkan menjadi homoseksual sudah jelas adalah sebuah pilihan yang terbentuk dari keadaan, pengaruh lingkungan, pengalaman, budaya, kelainan psikologis dan banyak lagi faktor lainnya.

 
Kakak beradik Youtuber The Rhodes Bros merekam langsung saat dimana mereka mengaku gay pada orangtua lewat telepon

Tahun 2015, para orangtua bangga memiliki anak yang merupakan pecinta sesama jenis

Tanggal 26 Juni 2015 merupakan sebuah "trigger" untuk perombakan besar yang akan terjadi di dunia yang kita tempati ini. Banyak pro kontra dan banyak juga yang memilih untuk acuh tak acuh selama hal tersebut tidak berpengaruh apa-apa pada mereka sekarang. Padahal, cepat atau lambat kita semua akan merasakan juga perubahan besar dari keputusan sebuah negara adidaya di benua Amerika itu. Keputusan yang katanya bertujuan untuk memperjuangkan kesetaraan dan mengatasnamakan cinta. Kalau sudah bicara tentang cinta, seharusnya hal tersebut tidak menyebabkan penyimpangan dan rusaknya moralitas dalam masyarakat. Kita sedang mengalami penurunan drastis terhadap peradaban, kita seperti hidup di jaman membenarkan apa yang salah, menganggap normal sesuatu yang melenceng dan mengebiri semua pihak yang ingin mengembalikan keadaan ke jalan yang benar. Tapi semua sudah ditetapkan dan terjadi tanpa bisa diubah dan dicegah. Jadi tidak sabar lagi untuk melihat bagaimana kehidupan manusia di masa-masa mendatang setelah "revolusi cinta" dikumandangkan...

It's Adam and Eve, not Adam and Steve !









Kamis, 05 Maret 2015

Bali Nine dan Negeri Kanguru


Hukuman mati yang dijatuhkan kepada dua warga Negara Australia menjadi salah satu topik hangat di negara ini. Ketika kasus narkoba dan ganjarannya membuat hubungan diplomatik antara kedua negara yang letaknya cukup berdekatan ini menjadi "ternoda". Hukuman mati yang legal di sebuah negara seharusnya dihormati bukannya ditentang hanya karena yang bersangkutan merasa takut dianggap lemah. Tony Abbott, orang nomor satu di Australia, merasa paling tidak bias tinggal diam dengan Indonesia yang sudah siap mengeksekusi para terpidana mati. Hingga bantuan kemanusiaan yang seharusnya diberikan secara ikhlas tanpa paksaan harus diungkit lagi untuk mengingatkan betapa Australia "sangat berjasa" kepada bangsa Indonesia, dan hanya berbalas air tuba. Padahal bisakah sekiranya Bapak Tony memperhitungkan berapa banyak perusahaan Australia merambah masuk ke ibu pertiwi untuk mengeruk keuntungan dari sumber daya alam di Indonesia. Apakah beliau juga tahu berapa jumlah karyawan ekspatriat Australia yang mencari nafkah di negara ini?
Dari situ saja kita sudah berjasa kepada Australia dengan membuka lebar pintu bagi warganya untuk bekerja disini selama bertahun-tahun. Untuk warga Australia yang tidak bekerja pun juga merambah masuk ke Indonesia, menikmati wisata alam disini dan memanfaatkan betapa murah nya biaya liburan di Indonesia kemudian menyampah disini untuk selanjutnya pulang ke Australia dengan pikiran yang fresh dan hati gembira.
Menteri luar negeri, Julie Bishop, berencana untuk menghambat pariwisata Indonesia dengan cara memberikan travel warning bagi warga negaranya untuk berlibur di Indonesia dan segera memindahkan warga negara Australia keluar dari Indonesia.
Silahkan, Bu. Go ahead.. Saya pikir, tanpa adanya warga negara Australia yang berlibur disini tidak akan terlalu berpengaruh secara signifikan. Oke, mungkin sedikit berpengaruh, tapi pariwisita Indonesia masih tetap bisa hidup seperti biasa. Kita juga sering kedatangan turis dari berbaagai penjuru dunia yang haus akan pariwisata Asia. Ditambah lagi , saya jamin deh, pasti banyak warga negara Australia yang tidak memperdulikan travel warning yang diberikan oleh pemerintahnya. Buktinya? Setelah banyak korban tewas warga negara Australia dari peristiwa bom Bali 14 tahun lalu, masih saja banyak orang-orang "Aussie" yang tetap berdatangan untuk berlibur.
Sekarang coba kita runtut dengan pelaku kriminal pembawa berkilo-kilo gram barang haram ke Indonesia. Sudah tertulis dengan jelas dalam hukum di negara ini bahwa seseorang dengan kepemilikan narkoba dalam jumlah tertentu akan di hukum seberat-beratnya. Bisa dibayangkan seberapa besar kerugian negara Indonesia karena ulah Bali Nine? Mereka merusak generasi bangsa ini dengan 'barang bawaan' mereka yang entah sudah dari kapan diselundupkan ke Indonesia.  Meskipun ada pembelaan yang menyebutkan bahwa terkadang orang yang membawa narkoba dalam jumlah yang banyak hanyalah seorang "kurir" , bukan pengedar narkoba atau pengguna narkoba. Memang sangat mengerikan kalau kita membayangkan di posisi seorang kurir tersebut. Kita hanyalah korban yang akhirnya harus menjalani hukuman mati. Namun, kasus seperti itu jarang terjadi. kebanyakan pembawa narkoba yang tertangkap adalah yang juga merupakan pemakai dan punya keterkaitan dengan pengedar narkoba. Dan hukum harus tetap ditegakkan. Beberapa oknum di negara ini terbukti kebal hukum terutama yang berkaitan dengan kasus korupsi. Saya pribadi cukup bersyukur dengan pemerintah kita yang tegas mempertahankan kekuatan hukum meskipun kita banyak menerima hujatan dan kantor kedutaan bangsa kita mendapat beberapa teror. Sekarang coba kita kembalikan lagi dengan pemerintah Australia. Ketika hukuman mati sudah diputuskan oleh pengadilan, apakah mereka bersedia untuk membatalkannya? Pasti kalau ditanya ke Bapak Tony, beliau akan tegas menjawab TIDAK.
Apa kabar juga dengan kasus penyadapan yang dilakukan oleh Australia kepada beberapa Negara termasuk Indonesia? berakhir dengan damai, bukan? Pak SBY yang kala itu menjabat sebagai presiden RI, telah memaafkan Australia, meskipun saya pikir mereka tidak menyesal sama sekali sudah bertindak licik seperti itu. Apakah lantas bangsa ini mendendam dan menyebutkan tentang bantuan-bantuan kemanusiaan atau bantuan yang lain untuk Australia?
Sangat disayangkan ketika kita harus menghadapi dilema. Di satu sisi,sangatlah bagus bagi bangsa ini apabila  memiliki kedaulatan hukum terutama mengenai hukuman mati. Namun di sisi lain, sudah pasti warga Negara Indonesia yang sedang ditahan di negara lain yang divonis hukuman mati tidak akan menerima belas kasihan untuk pembatalan hukuman. Siapapun saudara kita yang sedang berada dalam penjara di Australia, hampir bisa dipastikan sudah mendapatkan berbagai perilaku yang tidak menyenangkan. Bahkan mungkin bisa mendapatkan kebrutalan selama berada di penjara karena adanya ketegangan hubungan diplomatik akibat kasus Bali Nine.
Apapun yang terjadi, semoga hubungan diplomatik antara kedua negara bisa pulih seperti semula. Karena selama saya bertemu dan kenal dengan orang Australia, mereka sangat ramah dan menyenangkan. Beberapa bahkan sudah saya anggap seperti keluarga sendiri dan sebaliknya. Sangat disayangkan kalau suatu saat saya kembali ke Australia saya merasa tidak nyaman lagi karena mungkin mereka akan memiliki pandangan miring terhadap orang Indonesia, muslim pula. Tapi semoga saja ketegangan ini tidak berlangsung lama dan masing-masing pihak kembali akur seperti sedia kala.
 

Rabu, 05 November 2014

Random Encounters

Pagi ini sebelum berangkat kerja, saya sempat lihat TV dan setel channel Diva Universal. Channel tersebut suka menayangkan acara - acara reality shows dan sejenis FTV nya luar negeri. Kebetulan yang saya tonton pagi ini adalah salah satu FTV nya yang berjudul "Random Encounters". Mengisahkan seorang perempuan jomblo yang berprofesi sebagai artis freelance. Setelah gagal audisi iklan, si cewek yang lagi galau memutuskan untuk pergi ke sebuah café dan janjian dengan room mate nya di café tersebut. Sambil nunggu sahabatnya cewenya, perempuan itu ga sengaja ketemu sama stranger yang kebetulan stranger tersebut adalah cowok yang lumayan menarik perhatiannya. Sempat terjadi interaksi sebentar karena si perempuan tadi ga sengaja menumpahkan secangkir kopi panas ke si cowok. Ternyata si cewek juga menarik perhatian si cowok. Tapi karena mereka ga saling kenal, pertemuan mereka hanya sampai disitu karena ga ada saling bertukar nomor telepon atau apapun. Tapi, di FTV, semua bias terjadi. Cerita mengalir, dan akhirnya mereka dipertemukan lagi dan jadian terus berlanjut ke pernikahan.

Nonton FTV ini, saya jadi teringat sama "Random Encounters" saya sendiri. Akhir bulan Oktober kemarin, saya ada jadwal penerbangan dari Surabaya ke Balikpapan. Pada saat check in, ga sengaja saya lihat berjarak dua counter di sebelah saya, ada seorang cowok yang juga lagi check in. Lumayan menarik perhatian saya, karena cowok itu tipe saya banget. Tapi that's it. Saya ga berpikir lebih jauh karena memang hanya sebatas mengagumi sesaat orang yang saya ga kenal. Ditambah lagi, sepertinya cowok itu juga check in ke Jakarta meskipun kita di counter maskapai penerbangan yang sama.
Sambil menunggu jadwal keberangkatan saya yang masih satu setengah jam lagi, saya memutuskan untuk makan siang dulu sebelum terbang. Saya dan kakak saya mulai mencari-cari restoran di bandara yang nyaman untuk dipakai menunggu flight, tapi kami jadi bingung dan akhirnya memutuskan untuk makan di restoran fast food. Setelah order pesanan, saya dan kakak saya lalu menikmati makan siang sambil ngobrol-ngobrol. Tidak lama kemudian, saya lihat lagi cowok itu makan di resto yang sama dengan saya. Dan sempat ada satu kali kontak mata saya dengan dia. Tapi lagi-lagi that's it. Saya dan kakak saya keluar duluan dari restoran karena memang kita sudah selesai. Dan lagi-lagi pertemuan tersebut berakhir tanpa ada "something" untuk menjadikan pertemuan tersebut berkelanjutan.
Akhirnya saya naik ke pesawat dan terbang ke Balikpapan. Jarak tempuh Surabaya - Balikpapan memakan waktu satu setengah jam. Lumayan sebentar, tidak seperti rute Jakarta - Balikpapan yang memakan waktu dua jam lebih. Terus terang saya paling benci berlama-lama di pesawat , karena saya orangnya cepat bosan kalau harus tetap diam di tempat selama berjam-jam. Dan ada maskapai peenerbangan yang menerapkan peraturan tidak boleh menyalakan device sama sekali. Semua perangkat komunikasi harus fully off, tidak boleh hanya airplane mode atau offline. Kebetulan pesawat yang saya naiki ini juga menerapkan peraturan tersebut. Jadilah membuat orang bertambah bosan karena tidak bisa mendengarkan musik atau sekedar nge-game.  Akhirnya, pesawat saya mendarat di Balikpapan. Setelah tiba di kedatangan , saya bersiap-siap untuk menunggu bagasi saya. Sambil iseng menunggu dengan memain-mainkan troli saya, berdirilah di samping saya seseorang yang jaraknya lumayan dekat dengan saya. Saya tetap cuek dan tidak menoleh, sampai akhirnya orang itu berdiri lumayan agak di depan saya dan membuat saya menoleh ke arahnya. Oh my God, benar-benar sebuah kebetulan yang aneh,ternyata orang tersebut adalah cowok yang tadi. Saya pikir dia terbang ke Jakarta, tapi ternyata dia juga menuju ke Balikpapan. Saya sempat senyum-senyum sendiri di belakangnya, tapi lagi-lagi that's it. Bagasi saya sudah saya ambil duluan dan saya pun berlalu... Saya pun sempat mengkhayal, seandainya hidup ini adalah FTV, pasti ada berbagai cara untuk dipertemukan lagi dengan dia sehingga kami bisa punya kemungkinan untuk saling mengenal. Tapi sayang, hidup ini adalah realita yang paling nyata, sama sekali bukan FTV. Dan lagi-lagi atas semua ini , saya cuma tersenyum dan berkata dalam hati, "That's it..."  
 

Selasa, 21 Oktober 2014

Mantan married: cuek atau mewek?

Kalau dipikir-pikir , kayanya ga ada yang perlu di ambil pusing ketika kita dapat undangan dari mantan yang menikah. Toh, kisah cinta kita dengan si mantan sudah end dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Tapi itu adalah pendapat orang yang mungkin tidak punya nasib seperti itu.
Saya mau cerita pengalaman seorang sahabat baik saya, Naomi, yang tiba-tiba gloomy karena baru dapat kabar kalau mantannya menikah.  Saya udah sahabatan sama dia selama lebih dari 10 tahun, jadi kita jelas pernah yang namanya double date dan tau banget tentang cerita asmara satu sama lain. Kebetulan,  mantan Naomi yang nikah ini termasuk mantan terindahnya. Namanya Vero. Dulu, waktu mereka masih pacaran, Vero memang cinta banget sama Naomi. Saking deketnya hubungan pacaran mereka, masing-masing keluarga juga sudah kenal satu sama lain. Tapi mereka sama sekali belum ada rencana untuk menikah karena waktu itu mereka masih kuliah dan masih muda banget. Satu tahun pacaran, Naomi curhat ke saya kalau dia mulai bosen sama Vero. Dia ngerasa Vero bukan pasangan idealnya. Akhirnya beberapa bulan kemudian, setelah lama menjaga jarak dan bikin Vero galau setengah mati,  Naomi mutusin Vero dan jelas bikin Vero bener-bener sedih dan patah hati.
Seiring berjalannya waktu, setelah Naomi merasa sudah cukup umur untuk menikah, nasibnya seperti berubah 180 derajat. Setelah memutuskan untuk serius mencari suami, Naomi malah belum juga mendapatkannya. Pacar terakhir nya adalah Vero. Sementara Vero sendiri, sudah dua tahun balikan dengan mantannya. Naomi sedikit terusik dengan itu, karena posisi Naomi yang terus-terusan jomblo ga ada pasangan. Tapi karena Naomi sudah tidak komunikasi dengan Vero, dia berusaha cuek-cuek aja kalau mantannya itu udah bahagia punya pasangan. Tapi tetap aja Naomi terusik kalau lihat kemesraan Vero dan pacarnya di social media. Tapi Naomi selalu dan selalu berusaha untuk cuek-cuek aja, dan fokus untuk mencari pasangan hidup yang serius, yang sesuai dengan keinginan Naomi. Sampai akhirnya... Naomi dapat bbm dari temannya Vero, yang isinya mau ngantar undangan nikah Vero ke rumah Naomi. Pada saat itulah Naomi merasa seolah tersambar petir yang dahsyat. Dia memang ga cinta lagi sama Vero dan ga peduli Vero mau nikah atau ga atau mau nikah sama siapa. Tapi dengan posisi Naomi yang masih menyendiri, dia merasa terpukul dengan kabar pernikahan Vero.

Itulah yang saya bilang tadi, kalau ada mantan yang menikah memang tidak perlu ada yang dipusingkan, tapi tergantung dari kasus orang masin-masing. Kalau kasusnya seperti Naomi yang "kalah" dari mantannya, jelas denger kabar ada mantan yang married jadi kaya petir di siang bolong. Saya cuma berharap semoga Naomi segera menemukan jodohnya dan segera menyusul mantannya yang menikah. Kalau perlu Naomi duluan deh yang punya anak nantinya. Saya sangat banget sama sahabat saya itu, dan ga mau dia terus-terusan sedih. Dan semoga untuk kalian diluar sana yang masih jomblo dan ditinggal nikah mantan satu per satu, termasuk Risna (cewek yang ditinggal mantan nikah yang lagi happening banget di socmed) segera dipertemukan juga sama jodohnya dan bisa cepat kasih undangan wedding balasan ke mantan. Hehe..

Rabu, 15 Oktober 2014

Finding Love, Never Ending Story...


Ada lebih dari lima milyar manusia yang hidup di muka bumi ini. Tapi hanya sedikit yang sendiri.

Ada dua faktor eksak penyebab kesenderian; trauma patah hati dan pecinta sesama jenis. Sedangkan ada juga faktor x penyebab kesendirian seseorang; luck. 'Luck' disini maksdunya adalah nasib yang membawa orang tersebut tetap teguh dalam kesendirian meskipun jauh di lubuk hatinya tidak mau terus - menerus sendiri. Seringkali kita lihat di novel, film drama atau cerita-cerita cinta lainnya ada seseorang yang menyendiri karena punya sifat aneh atau buruk rupa atau memang memilih untuk sendiri. Sangat klise. Saya mau cerita tentang seseorang bernama Jillian. Dia muda, cantik, cerdas. Nothing wrong dalam dirinya. Sebagai manusia biasa, tentunya Jillian juga mempunyai kekurangan sama seperti manusia lainnya. Jillian teledor dan kurang disiplin. Tapi kalau Jillian dihadapkan dengan situasi dimana dia harus tekun dan disiplin, dia bisa menyesuaikan diri kok. Intinya, Jillian normal - normal saja kalau dinilai secara keseluruhan. Bahkan bisa digolongkan sebagai cewek dengan kelebihan di atas rata-rata. Tapi, sayang beribu sayang. Jillian sudah hampir empat tahun tidak punya pacar. Tapi perlu kalian ketahui, selama hampir empat tahun itu, Jillian sudah membuat banyak laki-laki patah hati. Bahkan ada yang selama itu masih setia menjadi penggemar sejati Jillian. Hanya mengharapkan balasan cinta darinya, bukan dari perempuan lain. Ada dua laki-laki yang Jillian buat seperti itu. Tapi bagi Jillian , itu bukan merupakan suatu kebanggaan yang perlu disebar luaskan. Jillian bukan tipe perempuan pemberi harapan palsu supaya tetap punya pengagum setia tanpa imbalan apa-apa. Tidak, Jillian bukan tipe perempuan yang kurang ajar seperti itu. Dia sangat menghargai perasaan seseorang dan tidak sedikitpun pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun. Kalau Jillian menolak seorang laki-laki, dia selalu siap kalau laki-laki itu akan move on dan berhenti memberikan perhatian untuknya, karena seperti itulah bagaimana seharusnya alam semesta ini bekerja. Setiap orang berhak bahagia. Baginya saat ini, memiliki seorang pasangan yang ia cintai dan mencintainya lah adalah suatu keberhasilan. Jillian tidak perduli berapa banyak laki-laki yang tergila-gila dengannya. Jillian tidak perduli berapa laki-laki yang mengharapkan cintanya. Toh, selama hampir empat tahun Jillian menyendiri, dia juga berkali-kali merasakan patah hati. Itulah yang terjadi pada Jillian. Berkali-kali jatuh cinta, belum pernah berbalas. Itulah ironisnya kehidupan Jillian. Berkali-kali menolak cinta, pernah juga dicampakkan cinta. Itulah realita yang sebenarnya. Yang jarang diangkat ke dalam novel atau film drama. Tidak klise, namun mungkin banyak juga yang mengalaminya di dunia nyata. Untuk kasus Jillian, faktor x lah penyebab dari kesendiriannya. Jillian tidak pernah memilih untuk berada dalam situasi yang terus menerus seperti itu. Nasib lah yang memilihnya. Tidak jarang Jillian ikut hanyut berurai air mata ketika menonton film romantis yang isinya adalah tentang pertemuan cinta sejati yang telah lama dinanti-nanti. Proses dalam cerita film tersebut seperti merefleksikan kehidupan nyata Jillian, hanya saja endingnya yang berbeda dengan kehidupan Jillian. Kebanyakan film romantis memiliki ending yang membahagiakan, terjadinya pertemuan cinta sejati yang telah lama dinantikan. Tapi Jillian belum mendapatkan ending yang seperti itu. Jillian seolah masih berada dalam chapter pertengahan dari sebuah film. Belum mencapai endingnya.  Ada masa dimana Jillian merasa sangat lelah dengan keadaan yang terus menerus tidak berubah dan keinginan untuk segera merubahnya seolah menggebu-gebu. Tapi toh Jillian tidak bisa berbuat apa-apa. Jillian pun ragu apakah dia bisa terus bertahan dengan keadaan yang seperti itu. Tapi Jillian masih memiliki Tuhan. Jillian masih selalu memanjatkan doa dan menyimpan harapan. Entah ada berapa orang yang seperti Jillian. Apakah diantara kalian ada juga yang seperti Jillian? Apakah kalian termasuk di antara dari miliyaran orang yang masih dalam pencarian? Semoga kalian dan Jillian segera mendapatkan ending yang kalian harapkan :)