Rabu, 29 Maret 2017

Salah Pilih Perias = Fatal (Wedding Disaster)

Oke.. langsung aja untuk artikel blog aku kali ini, aku mau mengungkapkan uneg-uneg / kekecewaan / kritik / masukan / referensi , tentang perias yang aku pilih untuk acara terbesar dalam hidupku, acara pernikahanku. Buat kalian yang akan melangsungkan pernikahan, perlu diketahui perias adalah salah satu elemen utama yang sangat menentukan kesuksesan acara pernikahan kalian, selain catering, venue dan lain-lain. Salah memilih perias, akan meninggalkan bekas yang ga akan bisa hilang dan dilupakan seperti pengalaman pribadiku ini. 

Aku mulai mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang tergolong singkat. Aku nikah di pertengahan bulan Maret dan baru mulai mengurus untuk keperluan acara di bulan Januari. Jadilah semuanya terkesan diburu-buru. Mulai dari venue, perias dan lain-lain, pada saat itu aku terlalu cepat untuk memilih dan memberikan tanda jadi alias DP. Selain karena minim referensi dan lumayan dikejar waktu, jadilah aku memilih perias Septi Widodo. Septi Widodo sendiri bukan nama asli dari si perias, tapi nama galerinya. Nama aslinya Septi Sagita Sari dan Widodo adalah nama belakang suaminya. Awalnya aku mau pilih House of Wedding (HOW), karena sudah sangat terkenal dan menjadi nomor satu di Balikpapan. Tapi waktu meeting pertama, aku dan mama kurang sreg dengan mas Adib (bos dan owner HOW). Karena waktu itu dia terkesan terlalu sibuk dan kurang bisa melayani tanya jawab dengan lengkap dan jelas. Dan pada saat itu, kita berada di galeri HOW yang juga sedang banyak pelanggan dan kita ga dikasih tempat yang lebih privat untuk tanya-tanya.  Selain itu juga sepertinya aku merasa lebih nyaman kalau dirias oleh perias perempuan. 

Akhirnya, jadilah aku menentukan pilihan ke perias Septi Widodo. Pada saat awal meeting, dia lumayan melayani dengan baik, berbeda sekali dengan HOW. Gallerynya juga sepi ga ada pelanggan yang lain jadi kita bisa lebih leluasa ngobrol-ngobrolnya. Orangnya ramah dan mau diajak discuss tanya jawab lama-lama. Hal itulah yang bikin aku jadi memantapkan hati untuk memilih perias ini. Karena dengan pertimbangan akan jauh lebih nyaman dengan perias perempuan, orangnya ramah dan mau menyediakan banyak waktu untuk pelanggan. Meskipun tarifnya lumayan mahal. 12 juta hanya untuk rias dan baju. Tanpa dekor kamar atau sekedar henna tangan. Ada bonus rias untuk prewedding sih.. tapi menurut aku tetap lumayan agak mahal.

Tanpa mau menunda-nunda lagi, beberapa hari kemudian, aku membayar DP dua juta, sesuai dengan yang disepakati. Setelah transfer, aku mengirim SMS ke Septi nya untuk pemberitahuan. Tapi SMS ku sama sekali ga direspon. Padahal sebelum-sebelumnya, kalau aku SMS dia lumayan responsif, tapi untuk kali ini aku heran kenapa sama sekali ga ada responnya padahal aku baru transfer uang yang menurut aku ga sedikit. Dari situ aku mulai merasa ada sesuatu yang ga beres. 

Selanjutnya, firasat jelek aku makin jelas terbukti. Setelah aku memberikan tanda jadi untuk dirias sama dia di acara wedding, semuanya jadi berubah 180 derajat. Perias itu susah banget dihubungin. Kalau ditelpon jarang diangkat, kalau di SMS dibalesnya lama banget. Padahal makin mendekati hari H, makin banyak yang perlu diatur, misal untuk jadwal fitting, untuk ukuran baju pagar ayu, ukuran baju orangtua, mertua dan lain-lain. Aku dan mama dari yang sabar jadi kehilangan kesabaran. Kita sempat berfikir untuk pindah ke perias yang lain, tapi kita juga dikejar waktu. Akhirnya aku ngerasa ga punya pilihan dan tetap harus bertahan dengan perias sudah aku pilih. 

Kekesalan aku makin memuncak begitu tau baju dan aksesoris yang disediakan sangat minim sekali. Untuk ukuran baju tidak bisa diubah-ubah, jadi dari kita yang harus bersusah payah untuk mencari pagar ayu yang ukuran badannya sesuai dengan ukuran baju yang si perias punya. Aku cuma bisa berusaha untuk sabar sesabar-sabarnya. Belum lagi ditengah-tengah kesibukan menjelang pernikahan , kita dibebankan dengan kewajiban untuk mencari atribut-atribut sebagai pelengkap baju dari perias seperti manset dan lain-lain yang seharusnya sudah disediakan oleh perias sehingga tidak menyusahkan pelanggan.

Akhirnya, aku cuma berharap pada saat hari H, semua akan berjalan dengan baik dan lancar. Aku berharap dia akan menebus semua sikap-sikap ga pantasnya di hari pernikahan. Tapi, justru malah di hari H dia banyak melakukan kesalahan yang fatal. Yang harusnya rias dijadwalkan akan dimulai jam 4 subuh , karena akad nikah dilaksanakan pagi jam 8, perias dan tim nya datang hampir di jam setengah 6 !!!
Aku gelisah banget karena aku takut semuanya jadi molor hanya karena jam setengah 6 aku baru mulai dirias. Belum lagi asisten-asistennya yang super duper menguji kesabaran, lupa bawa selop untuk pengantin dan lupa bawa bunga melati! Tapi pada saat itu aku cuma berusaha untuk menahan diri supaya tidak emosi, karena aku akan melewati prosesi yang sangat sakral dan aku ga mau mood ku jadi rusak gara-gara perias. 

Dan hasilnya, yang aku takutkan semuanya terjadi. Akad nikah jadi dilaksanakan jam setengah 9, semuanya jadi molor dan jadi terburu - buru untuk mempersiapkan resepsi yang dilangsungkan selanjutnya. Pada saat aku ganti gaun untuk resepsi, karena awalnya telat, ke belakangnya juga jadi telat. Tamu-tamu mulai berdatangan, tapi aku masih di kamar hotel untuk ganti gaun dan touch up. Aku bener-bener merasa sangat dirugikan. Belum lagi sang perias, orangnya sangat amat pelit. Waktu tante aku mau ganti hijab dan minta beberapa jarum pentul aku bisa denger kalau dia protes dan ga ikhlas jarum pentulnya diminta. Padahal itungannya, kan dia udah dibayar belasan juta hanya untuk rias dan meminjamkan beberapa gaun, apalah arti dari beberapa jarum pentul yang harganya ga seberapa itu?? Belum lagi jilbab chiffon yang ga sengaja terbawa sama sepupu aku yang baru selesai bertugas sebagai pagar ayu, ditagih sama dia. Padahal jilbab itu harganya ga lebih dari 50ribu. Dan dia menagih jilbab, tepat setelah aku transfer 9.5 juta untuk pelunasan biaya rias. Akhirnya mama yang mengganti jilbab itu dengan jilbab yang baru, karena mama juga udah muntab banget dengan attitude orang yang seperti itu.

Jadi, pesan aku buat yang mau nikah dan memilih perias, jangan cuma memilih perias yang hasil riasannya bagus. Memang hasil akhir itu penting, kalian terlihat cantik dan stunning di hari bahagia, itu memang tujuan utama. Tapi pilih juga perias yang enak diajak kerjasama, karena dalam mengurus pernikahan, proses itu juga penting dan mempengaruhi hasil akhir biar ga ada penyesalan dibelakang. Biarlah ini jadi pengalaman pribadi aku. Meskipun setelah sharing dengan teman teman yang lain, ternyata reputasi Septi Widodo sebagai perias di mata mereka juga ga bagus. Jadi, untuk kalian yang berada di kota Balikpapan dan bingung mau cari perias, aku sarankan jangan memilih Septi Widodo kalo ga mau nyesel. Selain tarifnya selangit, servisnya juga sangat mengecewakan. 

Untuk mba Septi dan tim, kalau kebetulan membaca ulasan ini, saya ga bermaksud untuk menjelek-jelekan pihak tertentu. Tapi ini adalah kritikan dari saya, semoga bisa menjadi masukan dan instropeksi untuk bisa menjadi lebih baik kedepannya. Karena bukan cuma saya yang merasa kecewa dengan pelayanan dari perias Septi Widodo Gallery. Jadikan pelanggan yang utama, jangan egois dan jangan terlalu pelit. Semoga ini bisa jadi masukan buat mba Septi dan tim.

Rabu, 22 Maret 2017

My Wedding Vendors - Reviews (Indonesian Balikpapan Wedding)

Alhamdulillah di tanggal 12 Maret 2017 kemarin, acara pernikahanku yang sudah dipersiapkan sejak berbulan - bulan telah selesai digelar. Secara keseluruhan acaranya berlangsung meriah dan lancar. Tamu - tamu yang datang lumayan banyak melebihi undangan yang disebar, ikut memeriahkan resepsi pernikahanku yang dimulai dari jam 11 pagi sampai jam 3 siang. Kali ini blog aku bereisi tentang review vendor-vendor yang aku pilih untuk pesta pernikahan.

  1. Venue
Untuk tempat acara resepsi, aku memilih di hotel Grand Tiga Mustika, lebih tepatnya di Teratai Convention Hall. Keputusan memilih tempat disini sebetulnya karena kekeliruan dari aku dan keluarga. Pada saat melihat paket wedding yang ditawarkan, kita lumayan tergiur dan cepat-cepat membayar DP untuk booking tanggal pernikahan di tempat tersebut. Ternyata setelah banyak discuss dengan pihak hotel, tetap aja paket tersebut banyak kekurangannya juga. Aku ambil paket wedding diamond di harga yang lumayan tinggi, karena memang paket tersebut adalah yang terbaik. Sudah termasuk venue, dekorasi eksekutif, electone, prasmanan buffet sesuai dengan menu makanan hotel yang enak-enak, kamar honeymoon, dua kamar untuk keluarga dan lain-lain. Untuk dekorasinya sendiri dan makannnya cukup bagus dan memuaskan. Tapi untuk sistem pengelolaan makanannya, sangat mengecewakan. Pihak hotel tidak akan mengganti piring yang sudah terpakai meskipun misal makanannya masih ada. Disini yang aku bener-bener merasa kecewa. Bisa dibayangkan pada saat tamu-tamu masih berdatangan, makanan pun masih ada , tapi alat makannya tidak tersedia? Selain itu pemain electone dari hotel sebagian besar hanya memainkan lagu-lagu tradisional dan lagu-lagu jaman dulu. Ini juga menjadi nilai minus yang sangat besar untuk pihak hotel. Jadi secara keseluruhan untuk paket wedding di hotel Grand Tiga Mustika kurang memuaskan.

       2. Perias
Aku memilih Septi Widodo sebagai perias yang aku percayakan untuk the big day. Langsung aja, sangat tidak recommended. Kalau dari hasil riasan, semua memuji, memang aku terlihat "manglingi" kalo kata orang Jawa atau bahasa Indonesianya bikin pangling. Tapi sebenarnya itu hanya hasil akhir. Prosesnya pun sangat penting kalau kita memilih perias yang tepat. Bayangin aja, Septi terlambat datang di hari H. Harusnya, jam 4 aku udah mulai dirias, tapi dia baru datang hampir jam setengah 6 ! yang membuat akad nikah jadi molor dan resepsi pun juga jadi lama mulainya. Belum lagi orangnya luar biasa pelit dan tidak koordinatif. Tarifnya sangat mahal, 12 juta hanya untuk rias dan pinjam baju. Tanpa dekor, atau sekedar henna tangan. Baju manset, dalaman hijab, kemeja dalam pria, dan lain-lain yang harusnya sudah disediakan oleh perias, ini kita harus menyediakan sendiri. Belum lagi susah untuk komunikasi, misalnya kalau di sms , ga dibales atau dibales keesokan harinya atau malam hari. Kalau ditelepon juga jarang diangkat. Dan pelanggan yang harus menyesuaikan jadwal dengan perias bukan sebaliknya. Belum lagi asisten-asistennya sangat tidak bagus. Di hari pernikahan, sandal untuk mempelai wanita tidak dibawa begitu juga dengan melati sebagai aksesoris yang paling penting. Secara keseluruhan, aku kecewa banget dengan perias Septi Widodo.

        3. Dokumentasi

Untuk fotografi pernikahan mulai dari prewedding sampai resepsi, aku memilih Rumah Photo. Dari segi harga sedikit lebih miring dibanding Haria Production,  Imaji Studio atau Lexa-Pearce. Secara keseluruhan cukup memuaskan. Akan tetapi, ada kesalahan besar dari Rumah Photo yang lagi-lagi membuat kecewa. Sudah disepakati kalau nanti di acara resepsi, foto-foto prewed aku dan suami akan ditampilkan di layar yang besar di dalam ballroom. Tapi, kayanya mereka lupa ngurusin itu jadi di sepanjang acara, tidak ada foto-foto prewed aku yang ditampilkan. Aku sendiri juga lupa, karena aku sudah ga bisa lagi mikirin hal-hal yang harusnya sudah beres diurus sama vendor. Menurut pendapat aku pribadi, kru-kru fotografinya agak males sehingga terjadilah kesalahan besar itu yang sangat mengecewakan buat aku dan pihak keluargaku yang lain. Dari mereka mau mengganti kompensasi sebesar 500ribu, tapi menurutku itu masih ga sepadan. Jadi secara keseluruhan Rumah Photo harusnya cukup memuaskan tapi jadi sedikit mengecewakan karena ada kesalahan fatal tersebut.

Sekian review-review dari aku yang baru aja bekerja sama dengan vendor-vendor yang aku pilih untuk pesta pernikahan. Kalau kalian memilih untuk mengadakan resepsi di hotel, pilihlah hotel yang menawarkan paket wedding yang lengkap. Otomatis harga paket wedding di hotel dan harga paket wedding di gedung jauh berbeda. Pasti kita harus rela keluarin kocek yang lebih besar kalau kita memilih hotel akan tetapi kalau dari pelayanan mereka bagus, pasti sepadan dengan pengeluaran yang sudah kita keluarkan. Yang pasti dari segi tempat lebih mewah dan nyaman untuk para tamu undangan. Dekorasinya sendiri juga cukup oke, selain itu yang pasti jauh lebih praktis karena sudah ada event organizer dari hotel. Kita ga perlu repot-repot cari band atau dekorasi atau catering, semua sudah diatur oleh pihak hotel. Kemudian, jangan juga buru-buru deal dengan satu vendor. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum kalian bayar DP. Lebih bagus lagi kalau kalian mau rajin datang ke wedding expo, disana banyak referensi-referensi vendor yang mungkin pas di hati. Selain itu juga biasanya mereka memberikan informasi yang berguna untuk kita memilih vendor mana yang tepat untuk memeriahkan hari bahagia kita.








Senin, 04 April 2016

Akankah..?

Satu lagi teman dekatku akan menyambut kehidupan baru yang bahagia dan penuh cinta. Dalam waktu dua minggu lagi dia akan menikah. Bisa dibilang dia teman seperjuangan waktu aku dulu bekerja di kantor yang lama. Kalau ada acara hangout atau ke acara kawinan kita sering pergi bareng karena kebetulan juga rumah aku berdekatan dengan rumahnya. Waktu masih sering main bareng dulu,  kita masih sama-sama jomblo. Kalau ke acara nikahan, kita berdua kompak galau bersama (haha), jadi kita bisa sama-sama berbagi rasa satu sama lain. 

Pernah suatu hari kita berdua datang ke acara nikahan adik perempuan dari teman kantor yang bertempat di ballroom hotel B. Seperti biasa budaya orang Indonesia kalau tamu datang, pertama-tama isi buku tamu, masukin amplop kemudian langsung salaman dengan mempelai dan orangtuanya atau dipersilahkan menikmati hidangan dulu sebelum salaman. Waktu itu konsepnya adalah tamu dipersilahkan menikmati hidangan dulu. Jadi aku dan temanku ini menyicipi makanannya dan mencari tempat duduk. Pada saat duduk dan mengamati tamu-tamu undangan yang lain, aku ga sengaja menangkap teman aku yang melamun menatap lurus kedepan memandangi pengantin. Aku mengerti sekali apa yang dia rasakan. Pasti dia menginginkan suatu saat nanti menjadi seorang pengantin, begitu juga yang aku rasakan.

Takdir, jodoh, rejeki, hidup dan matinya manusia memang 100% Tuhan yang menentukan. Siapa sangka, satu setengah tahun kemudian dia akan berada di pelaminan di ballroom hotel yang sama. Keinginannya terwujud dengan begitu indah... Beberapa waktu yang lalu, dia datang ke tempat itu hanya sebagai tamu, dan dua minggu lagi dia akan berada disitu sebagai mempelai wanitanya. Sebagai teman dekat, aku sangat terharu sekali. Ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. Sementara aku sendiri, dua minggu lagi akan datang ke tempat yang sama masih hanya sebagai tamu undangan. Sedikit miris pastinya, karena melihat orang-orang disekitarku yang sudah akan memulai kehidupan baru, sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara aku masih begini-begini saja. Tapi aku percaya dengan Sang Maha Pengatur. Dia akan memberikan apa yang aku mau disaat yang paling tepat dan indah pada waktunya.

Selamat menempuh hidup baru ya, SP.. Aku sedih kehilangan teman kondangan, tapi ikut bahagia atas pernikahan kamu nanti. Aku akan datang ke acara pernikahan kamu masih dengan status single, tapi aku yakin dan percaya suatu saat nanti aku juga akan merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan sekarang, bahkan mungkin lebih bahagia lagi. Hehe.. 
Aku masih datang ke ballroom hotel B sebagai tamu dan mungkin akan selalu begitu. Karena suatu saat nanti bisa saja acara weddingku di ballroom hotel yang lain tidak di tempat yang sama.

Meskipun aku merasa yakin, namun selalu ada banyak pertanyaan yang tidak kunjung hilang dari pikiranku.
Akankah suatu saat nanti giliranku yang berbahagia merasakan indahnya jadi seorang pengantin...?
Akankah aku menemukan seseorang yang menerimaku apa adanya dan setia menjalani hidup denganku selamanya?
Akankah aku diberi kesempatan untuk menempuh hidup yang baru dan benar-benar berbeda?
Semua jawabannya memang hanya Tuhan yang tahu. Tapi aku bisa merasakan kalau Dia berkata "Iya" :)

Rabu, 30 Maret 2016

If you had a trillion... lets indulge in fancies ! :D

Setelah baca berita tentang Sony Corp yang mengakuisisi saham milik Michael Jackson dengan nilai yang fantastis yaitu 9,75 triliyun rupiah, saya langsung jadi berandai - andai. Gimana ya rasanya punya uang senilai 9 triliun? Langsung deh sesi menghayal saya dimulai hehe. Tapi meskipun hanya berimajinasi, saya ga mau serakah juga untuk menghayal punya duit 9 T, cukup 1 T aja deh dalam khayalan saya. Apa hidup ini akan jauh lebih indah? Banyak yang bilang kalau "money can't buy happiness". Tapi banyak juga yang iseng menambahkan lanjutannya, seperti "money can't buy happiness but i'd rather cry in Porsche". Haha, ok that one, I just made it up. Tapi bener kan, memang uang ga bisa membeli kebahagiaan tapi uang adalah sesuatu yang sangat penting. Asal semua yang baca ini lagi ga dalam hypocrite mode on, pasti pada setuju sama saya. Pernah punya pengalaman pribadi nih, suatu hari saya ngerasa sedih, bad mood gitu lah. Kebetulan pada saat itu, saya lagi ada spare sejumlah uang yang ga dipake buat apa-apa. Akhirnya saya memutuskan untuk shopping, dan ternyata mood saya langsung membaik. Serius. Pasti banyak orang juga pernah ngalamin yang sama. Ngerasa lebih baik setelah belanja. Oke, mungkin ada juga yang bilang kalau "Ngga tuh, saya lebih ngerasa enakan kalau habis spa". Fine.. ! abis spa, massage, atau apalah, toh butuh keluar duit juga kan untuk itu semua? 

Oke, sekarang mari kembali ke topik awal, saya mau menghayal dulu kalau tiba-tiba saya punya uang satu triliun di rekening bank saya. Hal yang pertama saya lakuin adalah daftar haji plus plus. Sebagai seorang muslim, saya takut banget kalau tiba-tiba "dead" tanpa melakukan salah satu rukun Islam itu. Dan sekarang, berhubung naik haji ngantrinya bisa sampe satu abad (versi hiperbola), ada agen travel yang menawarkan untuk bisa langsung naik haji tanpa nunggu antrian, tapi ongkosnya berlipat-lipat dari ongkos haji reguler atau haji plus. Itulah tadi yang saya sebut dengan haji plus plus. Kisaran biayanya 200 juta per orang. Dan saya punya satu triliyun, oh gosh 200 juta murah banget... Jadi pertama kali yang saya lakukan adalah naik haji plus-plus sekeluarga. 

Next thing, saya beli rumah mewah, lengkap sama mobil mewahnya juga. Klise ya, hehe. Tapi sebagian besar orang pasti pengen kan settle down dengan rumah dan mobil yang udah oke. Untuk dua hal itu ya mungkin 10 M udah cukup. Tapi kayanya pengen juga ngerasain punya rumah di kawasan elit Calabasas, Los Angeles biar bisa tetanggaan juga sama Kendall Jenner. Pernah nonton acara million listing yang kadang ngasih info tentang harga rumah mewah di sekitaran Hollywood, kira-kira 50 M udah dapet yang lumayan bagus disana. Tambahan lagi, brokernya ganteng kaya model, jadi beli rumah mewah sekalian bisa pilih broker yang paling ganteng se-LA.  Dan uang satu T saya masih sisa banyak banget... Susah juga ya punya duit yang super duper banyak, bingung mau ngabisinnya gimana. Mungkin ini juga yang namanya ada ga enaknya punya duit banyak. Pertama, bingung ngabisinnya, kedua banyak yang ngincer juga. Maybe...

Selanjutnya, jelas akan saya pake foya-foya keliling dunia. Nah mungkin disini uang 1T saya bakal lumayan mulai berkurang banyak. Mau ke Eropa sampai ke Antartika rasanya, sambil menikmati fasilitas-fasilitas super mewah ala keluarga Kardashians. Oh... sweet imagination. Yang namanya menghayal memang ga ada batasnya, meskipun semu tapi kadang tetap ada enaknya. Ngebayangin juga nikmatin perawatan yang super mewah kaya facial diamond yang bener-bener pake diamond asli misalnya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Terus makan caviar dan segala macam makanan lain yang mewah semacam donat lapis emas atau roti isi pure cokelat made in Tuscany. Terus traveling dari satu tempat ke tempat lain dengan jet pribadi. Namanya punya duit 1 T apalah artinya beli jet pribadi yang paling harganya ga nyampe 100 M. 

Tapi yang namanya foya-foya rasanya ga lengkap kalau ga dibarengi dengan charity. Untuk yang satu ini saya mau take action yang ekstrim sekalian. Saya siapin ratusan tas plastik yang isinya duit berjuta-juta, saya kasih tiba-tiba ke pengemis atau berbagai pihak yang membutuhkan tapi dengan konsep prank kaya di acara-acara tv show seperti Punk'd atau seperti yang sering dilakukan Ellen di acaranya, The Ellen Show, ngasih mobil ke orang-orang yang membutuhkan kadang secara random. Atau kasih hujan duit buatan di atas langit dari jet pribadi saya, divideo-in terus di post di Instagram, terus saya tag tuh Best Vines atau 9gag, pasti direpost sama mereka. Hihi.

If I had a trillion, i know it doesn't guarantee 100% of my happiness, maybe 70 or 80%. But it's totally owkayyy ! :)






Kamis, 07 Januari 2016

"Mirek K"

Tulisan ini ditujukan untuk seseorang yang telah membuktikan kepada saya kalau cinta sejati itu memang ada. Kalau ketulusan tanpa syarat memang bisa berlaku untuk kita. Dan seseorang yang membuat saya merasa tidak beruntung dan beruntung secara bersamaan. Tulisan ini tentang seseorang bernama Mirek, warga negara keturunan Jerman yang memiliki unconditional love dengan seorang perempuan Indonesia asli yaitu saya, yang tidak akan pernah bisa membalas cintanya..

Sebelum bekerja di perusahaan sekarang, saya bekerja di perusahaan tambang Australia yang beroperasi di Kalimantan. Waktu pertama kali bekerja disitu di tahun 2011, saya baru lulus kuliah sebulan, umur saya masih baru beranjak 22 tahun. Dua bulan saya bekerja di perusahaan tersebut datanglah manajer baru dari Jerman yang akan mulai kerja di perusahaan tempat saya bekerja. Sebut aja dia "C". Singkat cerita, dia tertarik untuk menjadikan saya sebagai anak buahnya. Hubungan kami pun kadang tidak seperti bos dengan karyawan, tapi lebih seperti teman. Kami sering dinner bareng dengan keluarganya dan juga teman-temannya. Sampai pada suatu hari dia berniat mengenalkan saya dengan seorang temannya yang sebentar lagi akan mengunjunginya di Indonesia. Saya pun asik-asik saja dengan itu, lebih banyak teman jauh lebih baik, itu prinsip saya.

Akhirnya, saya diperkenalkan dengan teman C dalam sebuah dinner. Disitulah awal pertemuan saya dengan Mirek, sahabat lama C. Pada pertemuan itu saya merasa biasa saja. Sama sekali tidak terpikir oleh saya kalau saya bisa mempunyai hubungan spesial dengan bule. Selama ini saya sebatas berteman saja dengan orang-orang asing. Tidak terpikir untuk naksir atau berniat menjalani hubungan serius. Tapi ternyata lain halnya dengan Mirek. Pada saat dinner, saya beberapa kali menangkap kalau dia sedang menatap saya. Padahal saat itu saya benar-benar clumpsy seperti biasa, tertawa seenaknya, makan tanpa ada menjaga sikap sedikitpun, pokoknya sama sekali tidak ada terpikirkan untuk bersikap "jaim". Tapi siapa sangka tepat pada malam itu, dia jatuh cinta sama saya. 

Hari demi hari berlalu, kami semakin dekat. Pada saat dia harus kembali ke Jerman karena liburannya telah selesai dan harus kembali bekerja, kami tetap berkomunikasi dengan intens. Kemajuan teknologi sekarang ini benar - benar luar biasa kalau menurut saya. Indonesia - Jerman seolah-olah sama sekali tidak berjarak. Kami sering sharing tentang kegiatan kami melalui video call. Sehingga kami merasa tetap dekat walaupun lokasi kami satu sama lain berbeda ribuan mil jauhnya. Setiap saya ulang tahun, dia selalu mengirimkan sebuket bunga dan hadiah yang lain. Dia adalah orang yang suka memberi saya hadiah. Pada saat dia merayakan natal, dia  juga memberikan saya hadiah natal. Secara berkala dia mengunjungi saya. Pernah suatu waktu dia merasa sangat merindukan saya, tanpa pikir panjang dia ambil cuti dua minggu dan terbang ke Indonesia hanya untuk menemui saya sebentar-sebentar. Karena pada saat itu saya juga punya kegiatan sendiri dan tidak memungkinkan untuk sering-sering ketemu sama dia.

Dari awal kita dekat, dia sudah bilang ke saya kalau dia mau menikah dengan saya. Disitu saya langsung menjadi dilema. Di satu sisi, saya cuma berminat untuk memiliki pasangan serius orang Indonesia saja, di sisi lain saya tidak mau kehilangan teman yang baik seperti dia. Akhirnya setelah saya berulang kali menolak secara halus, saya pun harus jujur dengan dia. Saya jelaskan ke dia kalau saya adalah wanita muslim yang berusaha taat dengan agama saya. Saya mencari laki-laki yang sanggup menjadi imam saya dan anak-anak saya kelak. Sementara dia adalah seorang non-muslim yang sama sekali tidak mengerti ajaran Islam. Dia bersedia pindah agama untuk saya, tapi saya tidak mencari seorang muslim yang hanya semata-mata statusnya saja. Akhirnya dia pun sangat kecewa dan kami sempat hilang komunikasi beberapa waktu..

Seiring dengan berjalannya hari saya pun beberapa kali menjalin hubungan tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Lucunya, setiap kali saya patah hati, orang yang ingin saya hubungi adalah Mirek. Saya percaya dengan dia, dia orang yang bisa menyimpan rahasia saya. Meskipun dengan curhat ke dia masalah cowok, membuat dia cemburu dan jengkel, tapi dia tetap mau meladeni curhatan saya. Dia tetap selalu ada untuk saya disaat saya membutuhkannya. Hingga sekarang, di tahun 2016 ini, lagi-lagi saya patah hati dan lagi-lagi kepadanya lah saya curhat dan bercerita tentang semua yang saya alami. Saya merasa beruntung memiliki dia, teman yang selalu ada buat saya. Akan tetapi saya juga merasa tidak beruntung karena dia yang memiliki cinta yang besar dan tulus untuk saya, bukanlah orang yang ingin saya nikahi. Terlalu banyak kendala bagi saya apabila saya menikah dengannya. Saya merasa sedih sekali dengan keadaan ini. Sempat beberapa kali saya mencoba untuk putuskan komunikasi dengan dia selama-lamanya, tapi selalu tidak bisa. Terutama kalau saya sedang mengalami masalah berat. Karena hanya dengan dia saya bebas bercerita dengan gamblang tentang masalah -masalah yang saya alami.

Sejak bertemu saya pertama kali hingga saat ini, Mirek masih menyendiri. Kadang-kadang saya bertanya dengannya, kenapa dia tidak mau punya pacar. Jawabannya cukup membuat saya lemas, tersanjung sekaligus miris. Dia bilang "Apakah kamu tau, aku bukan orang yang bisa menyukai seseorang. Buatku itu hampir mustahil. Tapi pada akhirnya, aku menyukai seseorang dan kamu tau ga berapa lama aku menunggu hingga aku bisa menyukai seseorang? 15 tahun. Akhirnya setelah 15 tahun aku bisa jatuh cinta dengan seseorang, pada sebuah malam disaat dinner. Sayangnya, orang yang akhirnya membuat aku jatuh cinta itu, tidak mau menikah denganku dan lebih memilih untuk bersama orang yang akhirnya cuma bisa menyakitinya. Orang yang membuat aku jatuh cinta itu selama ini membuatku bahagia sekaligus patah hati. Dan orang itu adalah kamu."

Well.. Apapun itu saya selalu berharap yang terbaik buat Mirek. Dia bukan tipe orang yang mau berkomitmen, dia pernah bilang ke saya kalau tidak dengan saya, dia tidak akan mau berkeluarga. Biasanya kalau dia bilang seperti itu, saya cuma bisa menjawab semoga saya dan dia pada akhirnya menemui kebahagiaan masing-masing. Menemui orang yang mencintai kami apa adanya, mencintai sebesar yang kami punya dan hidup bahagia selamanya. Saya tidak tahu kapan itu akan terjadi, atau apakah itu akan terjadi. Yang pasti sebagai manusia, kita cuma bisa berharap yang terbaik.

Saya dan Mirek adalah dua orang yang kesepian. Yang ingin mencintai dan dicintai tapi belum mendapatkan kesempatan untuk merasakannya. Tapi saya tetap bersyukur bisa kenal dengan Mirek. Selama ini dia adalah satu dari segelintir orang yang bisa saya percaya untuk menjadi tumpahan uneg-uneg saya. Saya selalu berharap yang terbaik untuknya. Saya berharap dia akan mempunyai sebuah keluarga yang bahagia yang terdiri dari istri yang baik dan anak-anak yang lucu. Saya pun berharap yang sama untuk kehidupan saya sendiri. Mungkin saya dan Mirek selamanya tidak akan pernah bisa menjadi sepasang kekasih, tapi saya yakin selamanya kami akan berteman baik.

Schatzi,
Danke, das du für mich da bist...
Special for Mirek.




Minggu, 06 Desember 2015

Beauty is pain .. And pricy (aesthetic clinic adventure) Part 2

Kalau sudah ada yang baca postingan saya sebelumnya, pasti tahu dengan curhatan saya tentang permasalahan kulit wajah dan "petualangan" saya ke beberapa klinik perawatan wajah.
Yep, sekarang saya mau update perkembangannya seperti apa. Seperti yang sudah ada di tulisan sebelumnya saya janji akan memberi tahu tentang hasil dari perawatan wajah di klinik yang terakhir saya kunjungi, Erha Clinic. Kesimpulannya, saya luar biasa sangat amat kecewa. Tapi berikut saya sedikit beri tahu detailnya.

Dua minggu pertama , setelah rutin menggunakan sabun muka dan krimnya, saya merasa ada sedikit perbaikan di wajah saya. Terlihat sedikit lebih cerah dan segar. Tapi selanjutnya, berubah seperti "nightmare", wajah saya malah jadi jerawatan, merata diseluruh muka ! Yang biasanya saya tidak pernah ada jerawat di dahi, jadi muncul banyak jerawat di area itu. Selain itu juga kulit saya jadi sangat kering dan kusam. Pokoknya jadi kondisi kulit berubah jadi sangat kacau dan berantakan. Saya panik dan langsung datang untuk konsul ke dokter yang sudah memberikan saya krim "laknat" tersebut. Nama dokternya adalah dr. Regina. Setelah mendengarkan keluhan saya sebentar (kebetulan dokter yang satu ini kurang komunikatif sehingga tidak nyaman untuk diajak diskusi), dokternya memberikan saya resep yang isinya krim baru. Saya tidak punya pilihan lain selain percaya dengan obat yang sudah diresepkan dan berharap obat yang baru bisa memberikan perubahan yang lebih baik. 

Singkat cerita, saya pun mencoba krim yang sudah diganti selama dua minggu dan hasilnya kulit wajah tetap tidak ada perbaikan. Malah jadi lebih kering dan sama sekali tidak memungkinkan saya untuk melanjutkan pemakaian krim karena sangat merusak kulit. Akhirnya saya datang lagi ke klinik Erha untuk konsul dengan dokter yang lain, berharap ada solusi dan sedikit tanggung jawab karena sudah membuang-buang waktu, biaya dan energi saya. Tapi yang lebih penting, sudah membuat kulit wajah saya menjadi rusak. Akhirnya, jadilah saya ganti dokter, menemui dr. Nuriyah. Dari penampilannya yang berhijab dan sedikit berumur, saya pikir dokter ini bisa lebih bijak dan sabar menanggapi keluhan saya, tapi ternyata malah sebaliknya. Mungkin karena saya yang terlalu to the point bilang "kayanya krim Erha ga cocok dengan kulit saya, dok".
Dokternya pun menanggapi dengan sedikit emosi dan menyalahkan hormon dan tingkat stres pada diri saya. 

Kalau masalah hormon dan tingkat stres, manusia mana sih yang tidak punya? Semua punya hormon yang kadang tidak stabil, dan semua stres. Kalau tidak stres , bukan manusia namanya. Pertanyaannya, dari dulu saya juga punya hormon dan stres tapi tidak sampai menimbulkan jerawat yang tumbuh dengan agresif. Yang jelas, setelah saya pakai krim dari Erha, kulit wajah saya langsung dibuat berantakan. Dan kalau ada yang harus emosi, seharusnya pasien yang emosi bukan dokternya. Karena pasien lah yang sudah mengeluarkan biaya, meluangkan waktu dan menyediakan energi untuk menjalani perawatan yang ada.

Singkatnya, oleh dokter tersebut, saya dikasih resep krim yang baru. Dan dia bilang "kita lihat lagi perkembangannya satu bulan ke depan apakah kondisi wajah masih tetap sama ". Rasanya saat itu saya ingin merobek resepnya di depan si dokter. Karena saya tidak akan membiarkan eksperimen krimnya berjalan satu bulan lagi, sementara krim nya sudah dipastikan tidak cocok dengan kulit saya. Akhirnya, dengan lantang saya menyatakan bahwa hubungan saya dan Erha sudah berakhir. 

Karena saya sudah agak putus asa, akhirnya saya memutuskan untuk kembali saja ke Surabaya Skin Centre (SSC) yang pernah saya percaya. Kekurangan dari klinik ini buat saya hanya satu, jarak. Klinik perawatan ini tidak membuka cabang dimanapun entah karena apa, ekslusivitas mungkin? Karena saya tinggal di Balikpapan, jadi tiap kali mau kontrol untuk bertemu dengan dokter spesialisnya saya juga harus menyediakan biaya untuk tiket pesawat dan tempat tinggal. Dari segi harga, SSC juga bisa dibilang mahal. Satu tube kecil krimnya seharga sekitar 150 ribu. Belum lagi facial wash, obat minum dan lain-lain. Tapi buat saya untuk paket perawatannya masih affordable, kalau tidak ditambah dengan biaya pesawat dan lainnya.

Setelah tiba di SSC, saya langsung konsul dengan dokter spesialis yang katanya cukup ahli di bidang kosmetik. Dr. Putu, namanya. Oleh dokter Putu, saya disarankan untuk diberi tindakan "propil", yaitu sejenis peeling, tapi empat lapis atau dilakukan sebanyak empat kali. Jerawat - jerawat yang lumayan besar di wajah saya diberi injeksi supaya cepat hilang. Setelah itu dilakukanlah tindakan "propil" tersebut. Kalau ditanya sakit, sudah jelas. Bagi yang sudah mencoba peeling, mungkin tahu kalau kulit wajah terasa sangat panas seperti terbakar. Seperti itu kalikan saja empat kali, sesuai dengan berapa kali prosesnya.

Setelah "penyiksaan" selesai, saya digiring lagi ke proses selanjutnya, yaitu pemberian obat dan pembayaran. Untuk obatnya saya dikasih yang bermacam-macam, mulai dari obat minum yang terdiri dari vitamin dan antibiotik, krim wajah sampai water spray. Nah ini yang lumayan menarik. Saya juga belum pernah coba yang namanya menggunakan water spray. Lumayan penasaran juga sih.. Dari dokternya saya dikasih merk Avene Eau Thermale atau Thermal Spring Water. Katanya sih produk yang langsung diimpor dari Perancis. Diambil dari air yang mengalir dari kaki gunung Cevennes, di kedalaman Lembah Orb, bagian selatan Paris, Perancis. Mata air ini memiliki suhu konstan 25,6 derajat Celcius, bebas dari kandungan mikroba dan memeiliki pH7,5 (mendekati netral) (sumber: http://www.nonahikaru.com/2015/06/review-eau-thermale-avene-thermal.html)

Saya tidak mau review terlalu banyak tentang spring water ini (karena saya tidak menerima endorsement dari Avene untuk dimuat di blog saya, hehe), tapi saya tertarik menggunakannya karena memang baru pertama kali. Kalau dari yang saya lihat di internet tentang pengalaman orang yang mencoba, ada yang bilang berkhasiat, ada juga yang bilang tidak mengubah apa-apa. Ada yang bilang dianjurkan untuk membeli, ada juga yang bilang beli Avene cuma buang-buang uang saja. Kalau untuk saya sendiri, karena saya baru peeling, dianjurkan untuk menggunakan spring water supaya merah-merah di wajah setelah peeling bisa segera pulih. Setelah beberapa kali mencoba, saya suka dengan efek segarnya. Tapi hanya sebatas itu, untuk efek yang lain masih belum bisa dibuktikan karena saya baru menggunakan beberapa kali.

Dari sekali treatment yang saya jalani pada hari itu di SSC serta biaya obat yang diresepkan, saya merogoh kocek sekitar 3 jutaan. Buat saya jumlah tersebut tidak sedikit, belum lagi ditambah dengan biaya seperti yang saya bilang sebelumnya, tiket pesawat dan tempat tinggal. Tapi apa boleh buat, demi memperbaiki kulit wajah saya yang sudah dirusak, saya tidak punya pilihan lain. Semoga saja saya mendapatkan hasil yang diharapkan..




Senin, 30 November 2015

Finally It's Spoken :)

Sebagai seorang cewek yang masih single alias belum "merit", saya punya beberapa pengalaman tentang petualangan cinta. Ada pengalaman pacaran, pengalaman friendzone, pengalaman hubungan tanpa status dan lain-lain. Buat saya pengalaman-pengalaman tersebut adalah petualangan, dan dalam melaluinya ga jarang saya mengalami rintangan dan pahitnya kegagalan. Padahal saya bukan tipe cewek yang memulai duluan. Maksudnya, dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, saya termasuk tipe "old fashion" yang selalu menganggap cowok lah yang harus melakukan first move. Anehnya nih, fenomena yang sering saya alami sama mereka adalah mereka yang mulai, dan mereka juga yang mengakhiri. Nyebelin ga tuh?

Satu contoh yang sampai sekarang masih membekas dan belum bisa saya lupain adalah pengalaman di friendzone-in sama cowok. Sebut aja K. Suatu hari si K minta dikenalin sama saya melalui temennya. Singkat cerita hubungan kita berlanjut dari telponan/smsan ke yang mulai ngedate tiap ada waktu luang. Biasanya acara ngedate diisi dengan nonton atau sekedar dinner. Sebagai orang yang umurnya udah dewasa, pasti bakal mikir tentang kelanjutan hubungan yang seperti itu akan mengarah kemana. Buat saya pribadi, saya mikirnya dia cuma ngambil waktu beberapa lama untuk pdkt sama saya dan pasti ujung-ujungnya bakal nembak atau membicarakan tentang komitmen. 

Satu bulan pdkt.. belum ada tanda-tanda nembak. Dua bulan.. juga belum. Sampai bulan ketiga, tiba-tiba terbersit aja kita berdua bikin rencana liburan bareng adik-adik ke Lombok. Nah dari situ saya pikir dia bakal manfaatin momen liburan itu untuk nyatain sesuatu ke saya. Pada saat mempersiapkan liburan, saya ngerasa excited terus karena bakal ngira dapet kejutan spesial disana. Tapi sampai akhirnya pada saat kita udah berada disana, masih belum ada keliatan tanda-tanda dia bakal nembak. Dan justru malah pas kita lagi berada disana, saya ngerasa jadi lebih jauh sama dia. Liburan yang saya bayangkan akan jadi asik luar biasa, ternyata malah jadi bencana buat saya. Sama sekali ga mengasyikkan malah bawaannya saya pengen pulang terus. Pada saat itu, saya bener-bener kecewa banget dan masih ga ngerti maunya dia apa.

Begitu balik dari liburan, hubungan saya sama K jelas jadi ga bagus. Saya bener-bener bete sama dia. Disaat dia coba ngajak saya keluar, saya selalu nolak. Terus begitu sampai akhirnya dia menghilang tanpa saya pernah punya kesempatan untuk nanya tentang maksudnya dia selama ini apa. Bener-bener berapa bulan yang sia-sia saya jalanin sama dia. Sampai hari ini, saya ga pernah tau kabar dari dia lagi. Dan semua berakhir begitu aja tanpa ada bisa dibicarakan tentang apa sih sebenernya tujuan dia waktu itu deketin saya. Dan pada saat itu saya cuma menganggap kalo saya officially udah jadi korban friendzone :(

Setelah kasus K, ada beberapa kasus lagi yang serupa yang kejadian sama saya. Intinya, saya dideketin, tapi ga dikasih kepastian tentang apa tujuan dari pendekatan itu. Kalo saya dideketin cowok di usia saya yang masih 17 an, saya sih ga perlu repot buat cari tau maksud dan tujuan pendekatan mereka. Berhubung usia saya udah memasuki usia matang untuk mencari hubungan yang serius, saya jelas harus lebih selektif dong. Saya ga bisa lagi yang namanya sembarangan jalan sama cowok yang ga punya tujuan serius sama saya. Dan saya yakin diluar sana cewek-cewek smart yang seumuran sama saya pasti akan berpikir yang sama.

Yang saya sayangkan, seringkali hubungan ga jelas tersebut berakhir tanpa dibicarakan. Unspoken. Berakhir begitu aja meninggalkan rasa penasaran. Dan ga kasih saya kesempatan untuk protes ke mereka dan kasih tau ke mereka kalau apa yang mereka lakukan itu ga bener atau cari tau tentang apa maksud mereka yang sebenarnya.  Cukup bikin nyesek juga.. tapi mau gimana lagi, kalau memang hanya seperti itu keadaan yang harus jalani. Paling saya cuma bisa ambil pelajaran buat ke depannya supaya ga akan buang-buang waktu lebih lama sama laki-laki yang mau deket tapi ga punya tujuan yang serius. Mengenai keseriusan mereka, saya bilang mereka ga serius ya masih asumsi saya pribadi aja sih. Tapi karena mereka juga ga pernah bilang tentang apa yang mereka rasain, jangan salahin cewek kalau kita jadi ngejudge demikian. 

Tapi akhirnya, saya sekarang bisa merasa puas. Karena udah bisa mengutarakan semua uneg-uneg saya sama cowok yang terakhir. Sebut aja A. Bedanya, A ga friendzone-in saya. Kita sempet jadian, dia juga maunya serius saya pun juga mau yang sama. Intinya kali ini, saya ketemu sama cowok dewasa yang ga tertarik dengan hubungan yang main-main. Sayangnya hubungan tersebut berakhir dengan kegagalan. Dan selama ngejalanin hubungan itu, saya bener-bener ga hepi dengan sikapnya dia.

Saya sama A ngejalanin hubungan jarak jauh. Semua baik-baik aja dan menyenangkan sampai pada saat dia cerita ke orangtuanya tentang saya. Respon keluarganya kurang bagus, karena lokasi saya yang jauh dari dia. Sepertinya, keluarganya mau dia berhubungan sama orang yang satu kota aja sama dia. Dan disitulah cobaan buat saya dimulai. Dia mulai berubah sama saya. Mulai jarang kasih kabar, komunikasi kita jadi jarang, pokoknya berubah drastis. Sampai pada akhirnya saya mempertanyakan tentang komitmen kita. Buat saya, kalau memang itu harus berakhir, saya ga masalah yang penting saya dapat kepastian dan bisa segera move on.

Tapi sayangnya, dari dia ga terlalu ngasih kepastian yang bener-bener jelas. Dia bilang, dia tetap mau ngejalanin hubungan sama saya, tapi kalau saya ketemu sama cowok yang lebih baik dari dia, dia ga masalah kalo saya ninggalin dia  dan lanjut dengan hubungan yang baru. Dari situ saya jadi ngerasa dapat pencerahan kalau saya ga bisa serius dengan orang yang punya prinsip seperti itu. Dan akhirnya saya mengakhiri hubungan dengan dia karena buat saya dia ga tegas dan ga memperjuangkan apa yang sudah dia mulai hanya karena keluarganya yang kurang setuju.

Waktu demi waktu berlalu. Saya cuma berharap rasa sakit hati saya ini bisa sembuh seiring waktu. Apa yang saya rasakan, pendapat saya tentang si A lagi -lagi unspoken. Tidak ada kesempatan untuk menyampaikan ke dia seperti yang sebelum-sebelumnya. Saya berusaha berdamai dengan situasi "unspoken" itu dan pasrah kalau memang saya selamanya ga punya kesempatan  untuk menyampaikan semua yang saya rasain ke orang yang nyakitin saya.

Tanpa terasa, sebulan setelah kontak terakhir saya dengan si A, dia menghubungi saya lagi untuk menanyakan kabar. Saya pun menanggapinya dengan sangat "numb". Karena memang sudah ga ada interest lagi dengan dia dan udah benar-benar move on. Tapi tanpa diduga, dia memulai sebuah pembicaraan yang sempat unspoken tentang hubungan yang pernah kita jalanin. Dia jelasin tentang semuanya, tentang kenapa dia berubah dan gimana perasaan dia sama saya. Disitulah saya mulai ngerasa ada kesempatan buat saya ngeluapin semua uneg-uneg saya. 

Saya bener-bener bersyukur. Semuanya akhirnya bisa tersampaikan ke dia tanpa kurang satupun. Tentang bagaimana sakit hatinya saya karena sikapnya yang berubah, tentang penilaian saya buat dia, tentang perasaan saya sama dia... Hebatnya lagi, dia menanggapi semuanya dengan respon yang ga terduga. Dia minta maaf, menyesal dan dia minta kesempatan kedua supaya bisa memulai lagi dengan saya. Dan dia juga bilang dia ga bermaksud untuk nyakitin saya sama sekali karena waktu itu dia juga bingung harus bersikap apa dengan keadaan yang dia hadapi. Pokoknya semua sakit hati saya waktu itu jadi dibalas dengan rasa lega. Lega karena udah bisa bilang semua yang selama ini saya simpan sendiri dan lega karena dia udah minta maaf properly ke saya bahkan minta balikan.

Tapi semuanya udah terlambat. Tepat di hari saya putus sama dia waktu itu, saya langsung mendapatkan penggantinya. Mungkin itu cara Tuhan menghibur saya. Dan otomatis ga ada lagi kesempatan kedua buat si A. Meskipun dia bilang dia ga akan menjalin hubungan dengan siapapun sampai saya nerima dia. Itu sih terserah dia dan mungkin dia bisa ngambil pelajaran dari hubungan kita yang udah berakhir begitu aja. Intinya, saya ngerasa alam semesta akhirnya berpihak sama saya. Selama ini dari hubungan saya yang gagal dan berakhir meninggalkan banyak hal yang "unspoken" akhirnya ada masanya untuk jadi "spoken". Saya pun bisa tersenyum lega dan berkata dalam hati "finally, it's spoken.."

:)