Rabu, 02 Agustus 2017

Here Comes the Bridezilla (won in Vemale.com writing competition)



            Terima kasih Vemale, yang sudah memberikan saya kesempatan untuk berbagi cerita tentang suka duka mempersiapkan pernikahan. Semoga cerita saya ini bisa memberikan inspirasi  dan motivasi kepada calon pengantin wanita yang sedang mempersiapkan pernikahan , juga untuk para istri yang ingin bernostalgia mengingat kenangan – kenangan pada saat menuju ke pelaminan..
            Saya cuma punya waktu sekitar dua bulan untuk mempersiapkan pernikahan. Karena acara lamaran dilaksanakan diawal bulan Januari 2017 dan penentuan tanggal pernikahan adalah di tanggal 12 Maret 2017. Saya pikir dua bulan adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan sebuah acara pernikahan, tapi ternyata tidak. Mulai dari harus mengurus dokumen di KUA, melakukan foto prewedding, dan lain-lain. Apalagi pada saat itu saya benar-benar belum memutuskan vendor mana yang akan saya pilih untuk berpartisipasi dalam acara pernikahan saya nanti. Yang paling pusing adalah saya dan mama saya. Dari pihak suami sama sekali tidak bisa membantu karena mereka berasal dan tinggal di luar kota, sementara pesta pernikahan akan digelar di kota tempat saya tinggal yang juga merupakan kota kelahiran saya. Jadilah 100% persiapan acara dilakukan oleh pihak perempuan.
            Sebagai langkah awal, saya mulai cari-cari referensi vendor. Berbagai referensi saya dapat dari media sosial seperti instagram dan lain-lain juga dari informasi teman-teman. Akan tetapi ternyata kita butuh “feeling” atau intuisi sendiri yang kuat dalam memilih vendor yang tepat dan sayangnya dalam hal ini, “feeling” saya kebanyakan salah. Hehe.
            Dimulai dari memilih perias. Awalnya saya dan mama sepakat untuk memilih perias yang katanya terbaik di kota saya. Reputasinya juga bagus, dari info teman – teman dan sosial media. Akan tetapi ketika kami melakukan meeting pertama kali, kami tidak mendapatkan kesan yang baik. Si owner yang langsung turun tangan melayani kami tapi juga sibuk dengan pekerjaannya yang lain. Mungkin memang sedang menangani banyak job, akan tetapi apa salahnya juga untuk fokus sebentar dengan kami karena kami adalah calon pelanggan yang akan membayar mahal dan butuh servis yang memuaskan. Dari situ akhirnya kami memilih perias terbaik yang kedua saja, yang ternyata lebih bisa fokus dengan kami di meeting pertama dan menjawab berbagai pertanyaan kami dengan jelas dan memuaskan.
            Setelah sudah memutuskan pilihan untuk perias, selanjutnya saya harus memutuskan pemilihan tempat acara.  Saya memilih untuk mengadakan resepsi di sebuah hotel dibanding di gedung.  Jadilah saya mengirim email ke beberapa hotel yang ada di kota saya untuk mencari tahu penawaran paket wedding yang terbaik. Setelah rembukan dengan keluarga akhirnya saya memutuskan untuk memilih hotel “GTM”, sebut saja begitu. Karena biaya yang harus dikeluarkan untuk menikah di hotel cukup fantastis, jadi saya berharap pihak hotel bisa memberikan kepuasan kepada kami. Tapi ternyata, hasilnya jauh dari harapan saya.
            Dalam mempersiapkan pernikahan, memilih vendor saja rasanya sudah bikin pusing tujuh keliling. Dan ditambah lagi dengan konflik-konflik dengan keluarga yang tidak disangka-sangka ikut memberatkan pikiran. Katanya, memang orang yang mau menikah akan diuji kesabarannya dan saya sudah membuktikannya sendiri. Saya sering bertengkar sama mama kadang hanya karena masalah kecil (mungkin karena kami berdua sudah sama-sama stress). Kemudian ada konflik dari sepupu yang kecewa karena batal jadi pagar ayu setelah ada pertimbangan tertentu, yang bikin hubungan saya dan keluarga besar jadi tegang, belum lagi saya yang sering mengeluh dengan suami saya karena saya sangat lelah harus mempersiapkan semuanya sendiri tanpa dia. Karena waktu itu suami saya kerja di lokasi pertambangan dan baru bisa pulang H-2 sebelum akad nikah. Dan membuat saya juga kadang bertengkar dengan suami (yang waktu itu masih jadi calon suami). Pokoknya banyak hal-hal yang kita tidak menduga akan jadi masalah, ternyata bisa jadi cobaan bagi calon pengantin menjelang pernikahan.
            Secara keseluruhan, saya cukup kecewa dengan acara pernikahan saya. Meskipun banyak yang bilang kalau resepsi saya berjalan sukses, tapi mereka tidak tahu apa yang ada didalamnya. Vendor-vendor pernikahan saya melakukan kesalahan yang fatal di hari pernikahan saya. Contohnya perias yang datang terlambat dua jam dari jadwal yang membuat acara akad jadi terlambat dimulai dan resepsi juga jadi terlambat. Bisa dibayangkan betapa stresnya saya pada waktu itu sebagai calon pengantin yang beberapa saat lagi akan melangsungkan akad yang harusnya dilalui oleh si calon pengantin dengan pikiran yang tenang dan syahdu tapi malah dibuat was-was dan stress.
            Bagi para calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan, saran saya banyak-banyaklah cari informasi tentang vendor pernikahan yang akan kalian pilih. Perias, catering dan tempat acara adalah beberapa vendor utama yang harus benar-benar bisa meyakinkan kita untuk membuat acara pernikahan berjalan lancar. Mungkin kesalahan-kesalahan yang saya buat dalam memilih vendor juga karena sudah dikejar oleh waktu. Dua bulan untuk mempersiapkan acara pernikahan ternyata kurang lama.  Ada baiknya juga rajin datang ke acara wedding expo untuk menambah referensi tentang vendor pernikahan. Selain itu, jangan lupa banyak-banyak ibadah dan meningkatkan kesabaran, karena pada saat menjelang pernikahan calon pengantin akan mendapat banyak ujian. Disaat ada waktu luang, sangat bagus kalau bisa me-time sendirian atau bersama-sama dengan bridemaids dengan melakukan perawatan di spa atau salon langganan. Atau lakukanlah bersama dengan ibu, karena biasanya ibu adalah orang yang lebih stress dalam mempersiapkan pernikahan anaknya dibanding calon pengantinnya sendiri.
            Sekiranya itu sebagian dari pengalaman saya dalam mempersiapkan acara pernikahan. Seandainya waktu bisa kembali diulang, saya ingin mengadakan resepsi pernikahan lagi dengan memilih vendor yang berbeda dan dengan persiapan yang lebih matang. Memang dalam mempersiapkan pernikahan bagi saya bukanlah hal yang menyenangkan yang saya rasakan waktu itu. Tapi saya menganggap mungkin semakin berat yang kita lalui untuk menuju pernikahan, semakin kita bisa lebih menghargai pernikahan yang akan kita jalani. Hikmah itulah yang bisa saya ambil dan akan selalu saya ingat selamanya… :)

Kamis, 30 Maret 2017

I am Married and Everyone Surprised ! (Duh)

Momen pernikahan kemarin sangat amat menginspirasiku untuk memperkaya koleksi artikel di blog ini. Karena memang proses menuju ke pernikahan dan acara pernikahannya sendiri membuat sejuta cerita yang sama sekali ga bisa dilupain. Kali ini aku mau cerita tentang bagaimana semua orang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga besar, temen-temen, orang - orang dari lingkungan kantor yang kaget banget ketika denger kabar aku mau nikah. 

Mungkin aku perlu cerita dulu tentang bagaimana aku dan suami bisa ketemu. Jadi, aku udah kenal sama suami sejak dari sekitar 6 tahun yang lalu. Kita dipertemukan di tempat kerja. So, bisa dibilang perusahaan tempat aku kerja yang dulu sangat berjasa karena sudah menjadi "sarana" kita buat ketemu jodoh, hehe. Waktu awal ketemu, suami sih bilang udah suka pada pandangan pertama. Kalau aku, baru ada rasa sama dia setelah beberapa bulan bergaul dan jadi deket sama dia. Waktu itu, sebenernya suami udah ngajakin nikah, tapi karena satu dan lain hal, aku masih belum mau nikah sama dia. Ditambah lagi, aku ngerasa kita masih muda banget jadi aku belum mau memustukan untuk 'step my feet out from the party' dan terjebak jadi ibu rumah tangga, big no no.

Singkat cerita, karena jodoh adalah misteri, rahasia ilahi dan juga ajaib, enam tahun kemudian kita didekatkan lagi sampai akhirnya masing-masing memutuskan untuk serius menjalani hubungan menuju ke jenjang pernikahan. Prosesnya kita deket lagi sebelum nikah bisa terbilang singkat, hanya sekitar enam bulan. Dan disaat menjalani hubungan dengan suami, cuma orang-orang rumah yang tau. Bahkan, adik aku sendiri ga terlalu tau kalau kakaknya punya calon suami, karena memang kita ga serumah berhubung dia lagi jadi anak rantau, kuliah di luar kota Ditambah juga, karena aku dan suami LDR dan aku ga pernah cerita ke temen-temen juga kalau aku lagi serius ngejalanin hubungan sama orang. Apalagi posting-posting pamer di sosial media. Menurut aku hal itu sama sekali ga perlu.

Tapi prinsip ku itu lah yang membuat semua orang tercengang, terpana, jawdropping, kaget, surprised, begitu tau kalau aku akan menikah. 

"Kiky serius mau nikah?? ga pernah ketauan pacaran sama sekali tau-tau udah mau nikah"

Begitulah kira - kira sebagian besar komentar yang sering aku terima. Sebagian mungkin berfikir aku menjalani taaruf, tapi sayangnya ngga... Dan sebagian dari mereka khawatir kalau aku ga terlalu mengenal si calon suami dan memutuskan untuk cepet cepet nikah. Luckily, I am not that stupid.
Bukannya juga aku sengaja ngerahasiain dari orang-orang, tapi karena aku terlalu takut untuk sharing hal-hal yang sakral seperti itu sebelum bener bener mendekati hari H. Dan jadilah sebagian besar orang kaget banget denger aku mau nikah.

Menurutku pribadi sih, yang aku lakukan ini adalah yang sewajarnya dilakukan sama orang lain. Banyak banget temen-temen seumuranku yang bisa dibilang cukup matang untuk menikah, cuma sering posting foto dengan pacar, pamer kehidupan cinta yang belum halal ke sosial media. Tapi balik lagi sih.. masing-masing orang memang punya prinsip yang beda-beda. Tapi ga sedikit juga yang kagum sama caraku yang katanya "diem diem menghanyutkan". Ditambah lagi pamer kemesraan dengan pasangan yang belum resmi juga cuma akan menimbulkan fitnah, aku cuma berusaha untuk jadi lebih bijak dalam hal menyimpan kabar bahagia sampai rencananya bener bener akan direalisasikan. Dan hasilnya, banyak yang memuji sikap itu.

Anyway, semoga ini bisa jadi inspirasi buat orang lain yang berencana untuk menikah. Intinya, ga perlu banyak pamer ke seluruh dunia kalau kalian punya pasangan, resmikan dulu, baru dipublikasikan..



Rabu, 29 Maret 2017

Salah Pilih Perias = Fatal (Wedding Disaster)

Oke.. langsung aja untuk artikel blog aku kali ini, aku mau mengungkapkan uneg-uneg / kekecewaan / kritik / masukan / referensi , tentang perias yang aku pilih untuk acara terbesar dalam hidupku, acara pernikahanku. Buat kalian yang akan melangsungkan pernikahan, perlu diketahui perias adalah salah satu elemen utama yang sangat menentukan kesuksesan acara pernikahan kalian, selain catering, venue dan lain-lain. Salah memilih perias, akan meninggalkan bekas yang ga akan bisa hilang dan dilupakan seperti pengalaman pribadiku ini. 

Aku mulai mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang tergolong singkat. Aku nikah di pertengahan bulan Maret dan baru mulai mengurus untuk keperluan acara di bulan Januari. Jadilah semuanya terkesan diburu-buru. Mulai dari venue, perias dan lain-lain, pada saat itu aku terlalu cepat untuk memilih dan memberikan tanda jadi alias DP. Selain karena minim referensi dan lumayan dikejar waktu, jadilah aku memilih perias Septi Widodo. Septi Widodo sendiri bukan nama asli dari si perias, tapi nama galerinya. Nama aslinya Septi Sagita Sari dan Widodo adalah nama belakang suaminya. Awalnya aku mau pilih House of Wedding (HOW), karena sudah sangat terkenal dan menjadi nomor satu di Balikpapan. Tapi waktu meeting pertama, aku dan mama kurang sreg dengan mas Adib (bos dan owner HOW). Karena waktu itu dia terkesan terlalu sibuk dan kurang bisa melayani tanya jawab dengan lengkap dan jelas. Dan pada saat itu, kita berada di galeri HOW yang juga sedang banyak pelanggan dan kita ga dikasih tempat yang lebih privat untuk tanya-tanya.  Selain itu juga sepertinya aku merasa lebih nyaman kalau dirias oleh perias perempuan. 

Akhirnya, jadilah aku menentukan pilihan ke perias Septi Widodo. Pada saat awal meeting, dia lumayan melayani dengan baik, berbeda sekali dengan HOW. Gallerynya juga sepi ga ada pelanggan yang lain jadi kita bisa lebih leluasa ngobrol-ngobrolnya. Orangnya ramah dan mau diajak discuss tanya jawab lama-lama. Hal itulah yang bikin aku jadi memantapkan hati untuk memilih perias ini. Karena dengan pertimbangan akan jauh lebih nyaman dengan perias perempuan, orangnya ramah dan mau menyediakan banyak waktu untuk pelanggan. Meskipun tarifnya lumayan mahal. 12 juta hanya untuk rias dan baju. Tanpa dekor kamar atau sekedar henna tangan. Ada bonus rias untuk prewedding sih.. tapi menurut aku tetap lumayan agak mahal.

Tanpa mau menunda-nunda lagi, beberapa hari kemudian, aku membayar DP dua juta, sesuai dengan yang disepakati. Setelah transfer, aku mengirim SMS ke Septi nya untuk pemberitahuan. Tapi SMS ku sama sekali ga direspon. Padahal sebelum-sebelumnya, kalau aku SMS dia lumayan responsif, tapi untuk kali ini aku heran kenapa sama sekali ga ada responnya padahal aku baru transfer uang yang menurut aku ga sedikit. Dari situ aku mulai merasa ada sesuatu yang ga beres. 

Selanjutnya, firasat jelek aku makin jelas terbukti. Setelah aku memberikan tanda jadi untuk dirias sama dia di acara wedding, semuanya jadi berubah 180 derajat. Perias itu susah banget dihubungin. Kalau ditelpon jarang diangkat, kalau di SMS dibalesnya lama banget. Padahal makin mendekati hari H, makin banyak yang perlu diatur, misal untuk jadwal fitting, untuk ukuran baju pagar ayu, ukuran baju orangtua, mertua dan lain-lain. Aku dan mama dari yang sabar jadi kehilangan kesabaran. Kita sempat berfikir untuk pindah ke perias yang lain, tapi kita juga dikejar waktu. Akhirnya aku ngerasa ga punya pilihan dan tetap harus bertahan dengan perias sudah aku pilih. 

Kekesalan aku makin memuncak begitu tau baju dan aksesoris yang disediakan sangat minim sekali. Untuk ukuran baju tidak bisa diubah-ubah, jadi dari kita yang harus bersusah payah untuk mencari pagar ayu yang ukuran badannya sesuai dengan ukuran baju yang si perias punya. Aku cuma bisa berusaha untuk sabar sesabar-sabarnya. Belum lagi ditengah-tengah kesibukan menjelang pernikahan , kita dibebankan dengan kewajiban untuk mencari atribut-atribut sebagai pelengkap baju dari perias seperti manset dan lain-lain yang seharusnya sudah disediakan oleh perias sehingga tidak menyusahkan pelanggan.

Akhirnya, aku cuma berharap pada saat hari H, semua akan berjalan dengan baik dan lancar. Aku berharap dia akan menebus semua sikap-sikap ga pantasnya di hari pernikahan. Tapi, justru malah di hari H dia banyak melakukan kesalahan yang fatal. Yang harusnya rias dijadwalkan akan dimulai jam 4 subuh , karena akad nikah dilaksanakan pagi jam 8, perias dan tim nya datang hampir di jam setengah 6 !!!
Aku gelisah banget karena aku takut semuanya jadi molor hanya karena jam setengah 6 aku baru mulai dirias. Belum lagi asisten-asistennya yang super duper menguji kesabaran, lupa bawa selop untuk pengantin dan lupa bawa bunga melati! Tapi pada saat itu aku cuma berusaha untuk menahan diri supaya tidak emosi, karena aku akan melewati prosesi yang sangat sakral dan aku ga mau mood ku jadi rusak gara-gara perias. 

Dan hasilnya, yang aku takutkan semuanya terjadi. Akad nikah jadi dilaksanakan jam setengah 9, semuanya jadi molor dan jadi terburu - buru untuk mempersiapkan resepsi yang dilangsungkan selanjutnya. Pada saat aku ganti gaun untuk resepsi, karena awalnya telat, ke belakangnya juga jadi telat. Tamu-tamu mulai berdatangan, tapi aku masih di kamar hotel untuk ganti gaun dan touch up. Aku bener-bener merasa sangat dirugikan. Belum lagi sang perias, orangnya sangat amat pelit. Waktu tante aku mau ganti hijab dan minta beberapa jarum pentul aku bisa denger kalau dia protes dan ga ikhlas jarum pentulnya diminta. Padahal itungannya, kan dia udah dibayar belasan juta hanya untuk rias dan meminjamkan beberapa gaun, apalah arti dari beberapa jarum pentul yang harganya ga seberapa itu?? Belum lagi jilbab chiffon yang ga sengaja terbawa sama sepupu aku yang baru selesai bertugas sebagai pagar ayu, ditagih sama dia. Padahal jilbab itu harganya ga lebih dari 50ribu. Dan dia menagih jilbab, tepat setelah aku transfer 9.5 juta untuk pelunasan biaya rias. Akhirnya mama yang mengganti jilbab itu dengan jilbab yang baru, karena mama juga udah muntab banget dengan attitude orang yang seperti itu.

Jadi, pesan aku buat yang mau nikah dan memilih perias, jangan cuma memilih perias yang hasil riasannya bagus. Memang hasil akhir itu penting, kalian terlihat cantik dan stunning di hari bahagia, itu memang tujuan utama. Tapi pilih juga perias yang enak diajak kerjasama, karena dalam mengurus pernikahan, proses itu juga penting dan mempengaruhi hasil akhir biar ga ada penyesalan dibelakang. Biarlah ini jadi pengalaman pribadi aku. Meskipun setelah sharing dengan teman teman yang lain, ternyata reputasi Septi Widodo sebagai perias di mata mereka juga ga bagus. Jadi, untuk kalian yang berada di kota Balikpapan dan bingung mau cari perias, aku sarankan jangan memilih Septi Widodo kalo ga mau nyesel. Selain tarifnya selangit, servisnya juga sangat mengecewakan. 

Untuk mba Septi dan tim, kalau kebetulan membaca ulasan ini, saya ga bermaksud untuk menjelek-jelekan pihak tertentu. Tapi ini adalah kritikan dari saya, semoga bisa menjadi masukan dan instropeksi untuk bisa menjadi lebih baik kedepannya. Karena bukan cuma saya yang merasa kecewa dengan pelayanan dari perias Septi Widodo Gallery. Jadikan pelanggan yang utama, jangan egois dan jangan terlalu pelit. Semoga ini bisa jadi masukan buat mba Septi dan tim.

Rabu, 22 Maret 2017

My Wedding Vendors - Reviews (Indonesian Balikpapan Wedding)

Alhamdulillah di tanggal 12 Maret 2017 kemarin, acara pernikahanku yang sudah dipersiapkan sejak berbulan - bulan telah selesai digelar. Secara keseluruhan acaranya berlangsung meriah dan lancar. Tamu - tamu yang datang lumayan banyak melebihi undangan yang disebar, ikut memeriahkan resepsi pernikahanku yang dimulai dari jam 11 pagi sampai jam 3 siang. Kali ini blog aku bereisi tentang review vendor-vendor yang aku pilih untuk pesta pernikahan.

  1. Venue
Untuk tempat acara resepsi, aku memilih di hotel Grand Tiga Mustika, lebih tepatnya di Teratai Convention Hall. Keputusan memilih tempat disini sebetulnya karena kekeliruan dari aku dan keluarga. Pada saat melihat paket wedding yang ditawarkan, kita lumayan tergiur dan cepat-cepat membayar DP untuk booking tanggal pernikahan di tempat tersebut. Ternyata setelah banyak discuss dengan pihak hotel, tetap aja paket tersebut banyak kekurangannya juga. Aku ambil paket wedding diamond di harga yang lumayan tinggi, karena memang paket tersebut adalah yang terbaik. Sudah termasuk venue, dekorasi eksekutif, electone, prasmanan buffet sesuai dengan menu makanan hotel yang enak-enak, kamar honeymoon, dua kamar untuk keluarga dan lain-lain. Untuk dekorasinya sendiri dan makannnya cukup bagus dan memuaskan. Tapi untuk sistem pengelolaan makanannya, sangat mengecewakan. Pihak hotel tidak akan mengganti piring yang sudah terpakai meskipun misal makanannya masih ada. Disini yang aku bener-bener merasa kecewa. Bisa dibayangkan pada saat tamu-tamu masih berdatangan, makanan pun masih ada , tapi alat makannya tidak tersedia? Selain itu pemain electone dari hotel sebagian besar hanya memainkan lagu-lagu tradisional dan lagu-lagu jaman dulu. Ini juga menjadi nilai minus yang sangat besar untuk pihak hotel. Jadi secara keseluruhan untuk paket wedding di hotel Grand Tiga Mustika kurang memuaskan.

       2. Perias
Aku memilih Septi Widodo sebagai perias yang aku percayakan untuk the big day. Langsung aja, sangat tidak recommended. Kalau dari hasil riasan, semua memuji, memang aku terlihat "manglingi" kalo kata orang Jawa atau bahasa Indonesianya bikin pangling. Tapi sebenarnya itu hanya hasil akhir. Prosesnya pun sangat penting kalau kita memilih perias yang tepat. Bayangin aja, Septi terlambat datang di hari H. Harusnya, jam 4 aku udah mulai dirias, tapi dia baru datang hampir jam setengah 6 ! yang membuat akad nikah jadi molor dan resepsi pun juga jadi lama mulainya. Belum lagi orangnya luar biasa pelit dan tidak koordinatif. Tarifnya sangat mahal, 12 juta hanya untuk rias dan pinjam baju. Tanpa dekor, atau sekedar henna tangan. Baju manset, dalaman hijab, kemeja dalam pria, dan lain-lain yang harusnya sudah disediakan oleh perias, ini kita harus menyediakan sendiri. Belum lagi susah untuk komunikasi, misalnya kalau di sms , ga dibales atau dibales keesokan harinya atau malam hari. Kalau ditelepon juga jarang diangkat. Dan pelanggan yang harus menyesuaikan jadwal dengan perias bukan sebaliknya. Belum lagi asisten-asistennya sangat tidak bagus. Di hari pernikahan, sandal untuk mempelai wanita tidak dibawa begitu juga dengan melati sebagai aksesoris yang paling penting. Secara keseluruhan, aku kecewa banget dengan perias Septi Widodo.

        3. Dokumentasi

Untuk fotografi pernikahan mulai dari prewedding sampai resepsi, aku memilih Rumah Photo. Dari segi harga sedikit lebih miring dibanding Haria Production,  Imaji Studio atau Lexa-Pearce. Secara keseluruhan cukup memuaskan. Akan tetapi, ada kesalahan besar dari Rumah Photo yang lagi-lagi membuat kecewa. Sudah disepakati kalau nanti di acara resepsi, foto-foto prewed aku dan suami akan ditampilkan di layar yang besar di dalam ballroom. Tapi, kayanya mereka lupa ngurusin itu jadi di sepanjang acara, tidak ada foto-foto prewed aku yang ditampilkan. Aku sendiri juga lupa, karena aku sudah ga bisa lagi mikirin hal-hal yang harusnya sudah beres diurus sama vendor. Menurut pendapat aku pribadi, kru-kru fotografinya agak males sehingga terjadilah kesalahan besar itu yang sangat mengecewakan buat aku dan pihak keluargaku yang lain. Dari mereka mau mengganti kompensasi sebesar 500ribu, tapi menurutku itu masih ga sepadan. Jadi secara keseluruhan Rumah Photo harusnya cukup memuaskan tapi jadi sedikit mengecewakan karena ada kesalahan fatal tersebut.

Sekian review-review dari aku yang baru aja bekerja sama dengan vendor-vendor yang aku pilih untuk pesta pernikahan. Kalau kalian memilih untuk mengadakan resepsi di hotel, pilihlah hotel yang menawarkan paket wedding yang lengkap. Otomatis harga paket wedding di hotel dan harga paket wedding di gedung jauh berbeda. Pasti kita harus rela keluarin kocek yang lebih besar kalau kita memilih hotel akan tetapi kalau dari pelayanan mereka bagus, pasti sepadan dengan pengeluaran yang sudah kita keluarkan. Yang pasti dari segi tempat lebih mewah dan nyaman untuk para tamu undangan. Dekorasinya sendiri juga cukup oke, selain itu yang pasti jauh lebih praktis karena sudah ada event organizer dari hotel. Kita ga perlu repot-repot cari band atau dekorasi atau catering, semua sudah diatur oleh pihak hotel. Kemudian, jangan juga buru-buru deal dengan satu vendor. Carilah informasi sebanyak-banyaknya sebelum kalian bayar DP. Lebih bagus lagi kalau kalian mau rajin datang ke wedding expo, disana banyak referensi-referensi vendor yang mungkin pas di hati. Selain itu juga biasanya mereka memberikan informasi yang berguna untuk kita memilih vendor mana yang tepat untuk memeriahkan hari bahagia kita.








Senin, 04 April 2016

Akankah..?

Satu lagi teman dekatku akan menyambut kehidupan baru yang bahagia dan penuh cinta. Dalam waktu dua minggu lagi dia akan menikah. Bisa dibilang dia teman seperjuangan waktu aku dulu bekerja di kantor yang lama. Kalau ada acara hangout atau ke acara kawinan kita sering pergi bareng karena kebetulan juga rumah aku berdekatan dengan rumahnya. Waktu masih sering main bareng dulu,  kita masih sama-sama jomblo. Kalau ke acara nikahan, kita berdua kompak galau bersama (haha), jadi kita bisa sama-sama berbagi rasa satu sama lain. 

Pernah suatu hari kita berdua datang ke acara nikahan adik perempuan dari teman kantor yang bertempat di ballroom hotel B. Seperti biasa budaya orang Indonesia kalau tamu datang, pertama-tama isi buku tamu, masukin amplop kemudian langsung salaman dengan mempelai dan orangtuanya atau dipersilahkan menikmati hidangan dulu sebelum salaman. Waktu itu konsepnya adalah tamu dipersilahkan menikmati hidangan dulu. Jadi aku dan temanku ini menyicipi makanannya dan mencari tempat duduk. Pada saat duduk dan mengamati tamu-tamu undangan yang lain, aku ga sengaja menangkap teman aku yang melamun menatap lurus kedepan memandangi pengantin. Aku mengerti sekali apa yang dia rasakan. Pasti dia menginginkan suatu saat nanti menjadi seorang pengantin, begitu juga yang aku rasakan.

Takdir, jodoh, rejeki, hidup dan matinya manusia memang 100% Tuhan yang menentukan. Siapa sangka, satu setengah tahun kemudian dia akan berada di pelaminan di ballroom hotel yang sama. Keinginannya terwujud dengan begitu indah... Beberapa waktu yang lalu, dia datang ke tempat itu hanya sebagai tamu, dan dua minggu lagi dia akan berada disitu sebagai mempelai wanitanya. Sebagai teman dekat, aku sangat terharu sekali. Ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. Sementara aku sendiri, dua minggu lagi akan datang ke tempat yang sama masih hanya sebagai tamu undangan. Sedikit miris pastinya, karena melihat orang-orang disekitarku yang sudah akan memulai kehidupan baru, sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara aku masih begini-begini saja. Tapi aku percaya dengan Sang Maha Pengatur. Dia akan memberikan apa yang aku mau disaat yang paling tepat dan indah pada waktunya.

Selamat menempuh hidup baru ya, SP.. Aku sedih kehilangan teman kondangan, tapi ikut bahagia atas pernikahan kamu nanti. Aku akan datang ke acara pernikahan kamu masih dengan status single, tapi aku yakin dan percaya suatu saat nanti aku juga akan merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan sekarang, bahkan mungkin lebih bahagia lagi. Hehe.. 
Aku masih datang ke ballroom hotel B sebagai tamu dan mungkin akan selalu begitu. Karena suatu saat nanti bisa saja acara weddingku di ballroom hotel yang lain tidak di tempat yang sama.

Meskipun aku merasa yakin, namun selalu ada banyak pertanyaan yang tidak kunjung hilang dari pikiranku.
Akankah suatu saat nanti giliranku yang berbahagia merasakan indahnya jadi seorang pengantin...?
Akankah aku menemukan seseorang yang menerimaku apa adanya dan setia menjalani hidup denganku selamanya?
Akankah aku diberi kesempatan untuk menempuh hidup yang baru dan benar-benar berbeda?
Semua jawabannya memang hanya Tuhan yang tahu. Tapi aku bisa merasakan kalau Dia berkata "Iya" :)

Rabu, 30 Maret 2016

If you had a trillion... lets indulge in fancies ! :D

Setelah baca berita tentang Sony Corp yang mengakuisisi saham milik Michael Jackson dengan nilai yang fantastis yaitu 9,75 triliyun rupiah, saya langsung jadi berandai - andai. Gimana ya rasanya punya uang senilai 9 triliun? Langsung deh sesi menghayal saya dimulai hehe. Tapi meskipun hanya berimajinasi, saya ga mau serakah juga untuk menghayal punya duit 9 T, cukup 1 T aja deh dalam khayalan saya. Apa hidup ini akan jauh lebih indah? Banyak yang bilang kalau "money can't buy happiness". Tapi banyak juga yang iseng menambahkan lanjutannya, seperti "money can't buy happiness but i'd rather cry in Porsche". Haha, ok that one, I just made it up. Tapi bener kan, memang uang ga bisa membeli kebahagiaan tapi uang adalah sesuatu yang sangat penting. Asal semua yang baca ini lagi ga dalam hypocrite mode on, pasti pada setuju sama saya. Pernah punya pengalaman pribadi nih, suatu hari saya ngerasa sedih, bad mood gitu lah. Kebetulan pada saat itu, saya lagi ada spare sejumlah uang yang ga dipake buat apa-apa. Akhirnya saya memutuskan untuk shopping, dan ternyata mood saya langsung membaik. Serius. Pasti banyak orang juga pernah ngalamin yang sama. Ngerasa lebih baik setelah belanja. Oke, mungkin ada juga yang bilang kalau "Ngga tuh, saya lebih ngerasa enakan kalau habis spa". Fine.. ! abis spa, massage, atau apalah, toh butuh keluar duit juga kan untuk itu semua? 

Oke, sekarang mari kembali ke topik awal, saya mau menghayal dulu kalau tiba-tiba saya punya uang satu triliun di rekening bank saya. Hal yang pertama saya lakuin adalah daftar haji plus plus. Sebagai seorang muslim, saya takut banget kalau tiba-tiba "dead" tanpa melakukan salah satu rukun Islam itu. Dan sekarang, berhubung naik haji ngantrinya bisa sampe satu abad (versi hiperbola), ada agen travel yang menawarkan untuk bisa langsung naik haji tanpa nunggu antrian, tapi ongkosnya berlipat-lipat dari ongkos haji reguler atau haji plus. Itulah tadi yang saya sebut dengan haji plus plus. Kisaran biayanya 200 juta per orang. Dan saya punya satu triliyun, oh gosh 200 juta murah banget... Jadi pertama kali yang saya lakukan adalah naik haji plus-plus sekeluarga. 

Next thing, saya beli rumah mewah, lengkap sama mobil mewahnya juga. Klise ya, hehe. Tapi sebagian besar orang pasti pengen kan settle down dengan rumah dan mobil yang udah oke. Untuk dua hal itu ya mungkin 10 M udah cukup. Tapi kayanya pengen juga ngerasain punya rumah di kawasan elit Calabasas, Los Angeles biar bisa tetanggaan juga sama Kendall Jenner. Pernah nonton acara million listing yang kadang ngasih info tentang harga rumah mewah di sekitaran Hollywood, kira-kira 50 M udah dapet yang lumayan bagus disana. Tambahan lagi, brokernya ganteng kaya model, jadi beli rumah mewah sekalian bisa pilih broker yang paling ganteng se-LA.  Dan uang satu T saya masih sisa banyak banget... Susah juga ya punya duit yang super duper banyak, bingung mau ngabisinnya gimana. Mungkin ini juga yang namanya ada ga enaknya punya duit banyak. Pertama, bingung ngabisinnya, kedua banyak yang ngincer juga. Maybe...

Selanjutnya, jelas akan saya pake foya-foya keliling dunia. Nah mungkin disini uang 1T saya bakal lumayan mulai berkurang banyak. Mau ke Eropa sampai ke Antartika rasanya, sambil menikmati fasilitas-fasilitas super mewah ala keluarga Kardashians. Oh... sweet imagination. Yang namanya menghayal memang ga ada batasnya, meskipun semu tapi kadang tetap ada enaknya. Ngebayangin juga nikmatin perawatan yang super mewah kaya facial diamond yang bener-bener pake diamond asli misalnya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Terus makan caviar dan segala macam makanan lain yang mewah semacam donat lapis emas atau roti isi pure cokelat made in Tuscany. Terus traveling dari satu tempat ke tempat lain dengan jet pribadi. Namanya punya duit 1 T apalah artinya beli jet pribadi yang paling harganya ga nyampe 100 M. 

Tapi yang namanya foya-foya rasanya ga lengkap kalau ga dibarengi dengan charity. Untuk yang satu ini saya mau take action yang ekstrim sekalian. Saya siapin ratusan tas plastik yang isinya duit berjuta-juta, saya kasih tiba-tiba ke pengemis atau berbagai pihak yang membutuhkan tapi dengan konsep prank kaya di acara-acara tv show seperti Punk'd atau seperti yang sering dilakukan Ellen di acaranya, The Ellen Show, ngasih mobil ke orang-orang yang membutuhkan kadang secara random. Atau kasih hujan duit buatan di atas langit dari jet pribadi saya, divideo-in terus di post di Instagram, terus saya tag tuh Best Vines atau 9gag, pasti direpost sama mereka. Hihi.

If I had a trillion, i know it doesn't guarantee 100% of my happiness, maybe 70 or 80%. But it's totally owkayyy ! :)






Kamis, 07 Januari 2016

"Mirek K"

Tulisan ini ditujukan untuk seseorang yang telah membuktikan kepada saya kalau cinta sejati itu memang ada. Kalau ketulusan tanpa syarat memang bisa berlaku untuk kita. Dan seseorang yang membuat saya merasa tidak beruntung dan beruntung secara bersamaan. Tulisan ini tentang seseorang bernama Mirek, warga negara keturunan Jerman yang memiliki unconditional love dengan seorang perempuan Indonesia asli yaitu saya, yang tidak akan pernah bisa membalas cintanya..

Sebelum bekerja di perusahaan sekarang, saya bekerja di perusahaan tambang Australia yang beroperasi di Kalimantan. Waktu pertama kali bekerja disitu di tahun 2011, saya baru lulus kuliah sebulan, umur saya masih baru beranjak 22 tahun. Dua bulan saya bekerja di perusahaan tersebut datanglah manajer baru dari Jerman yang akan mulai kerja di perusahaan tempat saya bekerja. Sebut aja dia "C". Singkat cerita, dia tertarik untuk menjadikan saya sebagai anak buahnya. Hubungan kami pun kadang tidak seperti bos dengan karyawan, tapi lebih seperti teman. Kami sering dinner bareng dengan keluarganya dan juga teman-temannya. Sampai pada suatu hari dia berniat mengenalkan saya dengan seorang temannya yang sebentar lagi akan mengunjunginya di Indonesia. Saya pun asik-asik saja dengan itu, lebih banyak teman jauh lebih baik, itu prinsip saya.

Akhirnya, saya diperkenalkan dengan teman C dalam sebuah dinner. Disitulah awal pertemuan saya dengan Mirek, sahabat lama C. Pada pertemuan itu saya merasa biasa saja. Sama sekali tidak terpikir oleh saya kalau saya bisa mempunyai hubungan spesial dengan bule. Selama ini saya sebatas berteman saja dengan orang-orang asing. Tidak terpikir untuk naksir atau berniat menjalani hubungan serius. Tapi ternyata lain halnya dengan Mirek. Pada saat dinner, saya beberapa kali menangkap kalau dia sedang menatap saya. Padahal saat itu saya benar-benar clumpsy seperti biasa, tertawa seenaknya, makan tanpa ada menjaga sikap sedikitpun, pokoknya sama sekali tidak ada terpikirkan untuk bersikap "jaim". Tapi siapa sangka tepat pada malam itu, dia jatuh cinta sama saya. 

Hari demi hari berlalu, kami semakin dekat. Pada saat dia harus kembali ke Jerman karena liburannya telah selesai dan harus kembali bekerja, kami tetap berkomunikasi dengan intens. Kemajuan teknologi sekarang ini benar - benar luar biasa kalau menurut saya. Indonesia - Jerman seolah-olah sama sekali tidak berjarak. Kami sering sharing tentang kegiatan kami melalui video call. Sehingga kami merasa tetap dekat walaupun lokasi kami satu sama lain berbeda ribuan mil jauhnya. Setiap saya ulang tahun, dia selalu mengirimkan sebuket bunga dan hadiah yang lain. Dia adalah orang yang suka memberi saya hadiah. Pada saat dia merayakan natal, dia  juga memberikan saya hadiah natal. Secara berkala dia mengunjungi saya. Pernah suatu waktu dia merasa sangat merindukan saya, tanpa pikir panjang dia ambil cuti dua minggu dan terbang ke Indonesia hanya untuk menemui saya sebentar-sebentar. Karena pada saat itu saya juga punya kegiatan sendiri dan tidak memungkinkan untuk sering-sering ketemu sama dia.

Dari awal kita dekat, dia sudah bilang ke saya kalau dia mau menikah dengan saya. Disitu saya langsung menjadi dilema. Di satu sisi, saya cuma berminat untuk memiliki pasangan serius orang Indonesia saja, di sisi lain saya tidak mau kehilangan teman yang baik seperti dia. Akhirnya setelah saya berulang kali menolak secara halus, saya pun harus jujur dengan dia. Saya jelaskan ke dia kalau saya adalah wanita muslim yang berusaha taat dengan agama saya. Saya mencari laki-laki yang sanggup menjadi imam saya dan anak-anak saya kelak. Sementara dia adalah seorang non-muslim yang sama sekali tidak mengerti ajaran Islam. Dia bersedia pindah agama untuk saya, tapi saya tidak mencari seorang muslim yang hanya semata-mata statusnya saja. Akhirnya dia pun sangat kecewa dan kami sempat hilang komunikasi beberapa waktu..

Seiring dengan berjalannya hari saya pun beberapa kali menjalin hubungan tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Lucunya, setiap kali saya patah hati, orang yang ingin saya hubungi adalah Mirek. Saya percaya dengan dia, dia orang yang bisa menyimpan rahasia saya. Meskipun dengan curhat ke dia masalah cowok, membuat dia cemburu dan jengkel, tapi dia tetap mau meladeni curhatan saya. Dia tetap selalu ada untuk saya disaat saya membutuhkannya. Hingga sekarang, di tahun 2016 ini, lagi-lagi saya patah hati dan lagi-lagi kepadanya lah saya curhat dan bercerita tentang semua yang saya alami. Saya merasa beruntung memiliki dia, teman yang selalu ada buat saya. Akan tetapi saya juga merasa tidak beruntung karena dia yang memiliki cinta yang besar dan tulus untuk saya, bukanlah orang yang ingin saya nikahi. Terlalu banyak kendala bagi saya apabila saya menikah dengannya. Saya merasa sedih sekali dengan keadaan ini. Sempat beberapa kali saya mencoba untuk putuskan komunikasi dengan dia selama-lamanya, tapi selalu tidak bisa. Terutama kalau saya sedang mengalami masalah berat. Karena hanya dengan dia saya bebas bercerita dengan gamblang tentang masalah -masalah yang saya alami.

Sejak bertemu saya pertama kali hingga saat ini, Mirek masih menyendiri. Kadang-kadang saya bertanya dengannya, kenapa dia tidak mau punya pacar. Jawabannya cukup membuat saya lemas, tersanjung sekaligus miris. Dia bilang "Apakah kamu tau, aku bukan orang yang bisa menyukai seseorang. Buatku itu hampir mustahil. Tapi pada akhirnya, aku menyukai seseorang dan kamu tau ga berapa lama aku menunggu hingga aku bisa menyukai seseorang? 15 tahun. Akhirnya setelah 15 tahun aku bisa jatuh cinta dengan seseorang, pada sebuah malam disaat dinner. Sayangnya, orang yang akhirnya membuat aku jatuh cinta itu, tidak mau menikah denganku dan lebih memilih untuk bersama orang yang akhirnya cuma bisa menyakitinya. Orang yang membuat aku jatuh cinta itu selama ini membuatku bahagia sekaligus patah hati. Dan orang itu adalah kamu."

Well.. Apapun itu saya selalu berharap yang terbaik buat Mirek. Dia bukan tipe orang yang mau berkomitmen, dia pernah bilang ke saya kalau tidak dengan saya, dia tidak akan mau berkeluarga. Biasanya kalau dia bilang seperti itu, saya cuma bisa menjawab semoga saya dan dia pada akhirnya menemui kebahagiaan masing-masing. Menemui orang yang mencintai kami apa adanya, mencintai sebesar yang kami punya dan hidup bahagia selamanya. Saya tidak tahu kapan itu akan terjadi, atau apakah itu akan terjadi. Yang pasti sebagai manusia, kita cuma bisa berharap yang terbaik.

Saya dan Mirek adalah dua orang yang kesepian. Yang ingin mencintai dan dicintai tapi belum mendapatkan kesempatan untuk merasakannya. Tapi saya tetap bersyukur bisa kenal dengan Mirek. Selama ini dia adalah satu dari segelintir orang yang bisa saya percaya untuk menjadi tumpahan uneg-uneg saya. Saya selalu berharap yang terbaik untuknya. Saya berharap dia akan mempunyai sebuah keluarga yang bahagia yang terdiri dari istri yang baik dan anak-anak yang lucu. Saya pun berharap yang sama untuk kehidupan saya sendiri. Mungkin saya dan Mirek selamanya tidak akan pernah bisa menjadi sepasang kekasih, tapi saya yakin selamanya kami akan berteman baik.

Schatzi,
Danke, das du für mich da bist...
Special for Mirek.